Mendengar curahan seorang kawan. Agak bingung juga menanggapinya. Salah-salah saya malah ikut nimbrung dengan rumpian-rumpiannya terhadap si objek. Siapakah objeknya? Inilah yang membuat saya berpikir, jangan-jangan sayapun sedang dilanda masalah yang sama? Karena yang jadi objek curhat  kawan saya adalah pemimimpinnya.

Tiba-tiba kawan saya bertanya “bagaimana watak Akhi fulan?” asumsinya, karena saya kenal dengan akhi Fulan. Mendengar pertanyaan itu, saya pun bingung. Saya kira semua perbincangan akan berakhir kalau saya hanya menjawab dengan senyum dan geleng kepala. Ternyata kawan saya malah menjawab pertanyaannya sendiri “kalau aku lihat ya ukhti, dia orangnya otoriter, ceplas-ceplos, sak karepe dewe” Tidak mungkin saya mengiyakan ucapannya itu, karena sama saja saya seperti meniup bara dalam sekam. Lagipula saya tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan curhat yang ujung-ujungnya malah ngrumpi. Dengan tawa renyah untuk penetral suasana saya jawab “hehe…tiap orang kan punya karakter masing-masing ukhti…santai aja…tetap semangat ya..” Saya tidak tahu apakah masalah yang ditimpanya terlalu berat atau bagaimana, kawan saya melanjudkan “Tapi ukhti kalau dia memang makhluk sosial tentune dia juga harus bisa mengerti kondisi orang lain…sikap orang boleh beda, tapi paling nggak ya ngerti sikap orang lain juga kan..?”

Mendengar ucapannya yang ini sayapun berpikir apakah saya pernah berpikir sama soal pemimpin saya? Karena bagaimanapun interaksi antara staf dengan pemimpin pasti akam menimbulkan masalah. Pasti ada ‘’benturan’’ . Bisa-bisa kekonaatan  masing-masing jadi taruhannya. Ya, kadang sayapun berpikir pemimpin saya  kurang ini, kurang itu, terlalu begini, terlalu begitu. Yang pasti, “benturan” itu ada karena saya merasa ada yang tidak sesuai. Apakah tidak sesuai dengan saya pribadi atau dengan yang lain.

Agak lama saya diam. Lalu saya berusaha agar kawan saya tidak lebih tersulut lagi. Saya katakan padanya”gak papa ukhti, yang penting tiap amanah yang kita kerjakan semua karena Allah. Dimaksimalkan samapai batas kemampuan kita. Insyaallah siapapun pemimpinnya bisa percaya dengan sendiri”. Kawan saya masih kuat dengan argumen-argumennya yang jelas memiringkan posisi sang pemimpin. Jelas saja, tiap orang pasti memiliki idealisme sendiri-sendiri soal pemimpin. Asalkan tidak sampai melanggar hukum saja.

Nasihat bagi Saya karena Saya Staf

Berakhir perbincangan kami, saya masih merenung, apakah perbincangan kami tadi ghibah? Yang jelas, kawan saya mengeluh soal pemimpin. Membahas dari keburukan yang kecil sampai yang dia anggap tidak bisa ditolerir (walaupun hanya masalah sikap), dan saya..mendengarkan ia bercerita sampai seolah objeknya ada di depan saya. Semestinya ada sebuah hikmah, setidaknya renungan bagi saya karena saya pun seorang staf di institusi tempat saya beraktivitas.

Nasihat ini datang dari salah seorang sahabat Rasulullah, Abu Aiyub Al-Anshari. Beliau adalah seorang pejuang di waktu senag ataupun susah. Saya kagum dengan semboyan beliau. “Berjuanglah kalian baik di waktu lapang, maupun di waktu sempit”.( Ada yang tahu itu potongan surat ke berapa dalam Al Qur’an?) Apapun kondisi yang menimpa, beliau selalu mengikuti peperangan untuk meraih jihad. Hanya satu kali beliau absen dalam peperangan. Suatu hari, khalifah mengangkat seorang komandan dari pemuda muslimin. Abu Aiyub tidak puas dengan kepemimpinannya. Sikapnya ini sangat membuat Abu Aiyub menyesal. Beliau berkata “Tak jadi soal lagi bagiku, siapa orang yang jadi atasanku..!”. Setelah itu Abu Aiyub tidak pernah lagi absen dalam barisan tentara muslimin.

Itulah kiranya sikap seorang pejuang sejati. Keloyalan yang ia berikan bukanlah semata-mata karena siapakah yang menjadi pemimpin, melainkan pemahamannya yang mengantar pada keimanan yang kuat.

Mungkin suatu hal yang wajar ketika saya mengeluh “kenapa amanah ini sangat berat,padahal sayapun punya urusan lain yang harus terselesaikan?”  tetapi saat saya baca sebua ayat  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (Qs. Al Anfal:27), malu sendiri rasanya. Mestinya saya menyadari bahwa amanah ini bukan dari pemimpin dari Allah. Pemimpin hanya perantara amanah itu. Yakinlah kalau saya pasti mampu melewatinya. Jangan lupa Allah pun punya kriteria soal orang yang beriman, yakni orang yang menjalankan amanahnya (QS. Al mu’minun: 8).

Menyikapi sikap pemimpin, Rasulullah bersabda “siapa saja membenci sesuatu dari amirnya, hendaklah ia tetap bersabar…” (HR. Muslim). Beliau juga bersabda “sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah mereka yang kalian cintaidan merekapun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian” ditanyakan kepada Rasulullah, “wahai Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka? Beliau menjawab “jangan, selama mereka masih menegakkan shalat (hukum Islam) di tengah-tengah kamu sekalian” (HR. Muslim dari ‘Auf bin Malik)

Dari hadits di atas, saya memahami bahwa pasti ada sosok pemimpin yang baik dan ada juga yang sebaliknya. Yang menjengkelkan, yang kurang pitar, yang kurang bijak dan mungkin menurut pandangan manusiawi kurang semuanya. Namun, ketika dia masih menjalankan hukum Islam saya, sebagai staf harus tetap menaatinya. Jadi, selagi tiap amanah yang dia berikan masih pada koridor hukum Islam, saya pun harus qona’at terhadap amanah itu.Harus selalu saya ingat, bentuk ketaatan saya pada pemimpin adalah wujud ketaatan saya pada hukum Islam.

Renungan untukku ketika Suatu Saat Aku jadi Pemimpin

Menjadi seorang pemimpin….

Hmm… bukan suatu yang mudah. Tetapi, pasti tiap manusia  mampu melewatinya. Bukankah memang tiap diri kita adalah seorang pemimpin? Minimal pemimpin bagi diri sendiri. Menjadi seorang pemimpin juga bentuk amanah dari Allah dan sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpin yang bersikap adil.

Nasihat untuk kita semua yang ada dalam sebuah kelompok

“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (QS. As Shaf: 4)

Mari pemimpin dan staf bekerja sama saling menguatkan! Apa lagi kita yang ada dalam kelompok Amar ma’ruf nahi munkar.

 

 

 

 

 

 

 

Fakta
Berdasarkan cerita sorang nara sumber, sebut saja ustadz XY dalam sebuah majelis ilmu. Beliau menceritakan bawha, suatu ketika halaman rumahnya dipenuhi dengan ceceran kotoran (manusia). Malam sebelum ditemukan kotoran-kotoran tersebut, ada segerombolan orang menggedor-gedor pintu rumahnya. Setelah diusut, ternyata kotoran itu memang sengaja di cecerkan di halaman rumah beliau oleh gerombolan orang yang merasa iri dengan status beliau dan tersinggung atas nasihat kepada mereka saat berjudi di pos kamling lingkungan perumahan yang mereka tempati.
Di belahan waktu yang berbeda, sebuah kisah dari dua sahabat Rasul, Umar bin Khathab dan Abu Bakar. Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah yang sangat kaya dan memiliki kedermawanan sangat tinggi. Pada saat kaum muslimin hijrah ke Madinah, beliau mendermakan seluruh hartanya untuk kepentingan Islam. Bahkan, tidak sepeser hartapun ia tinggalakan untuk keluarganya di Makkah. Ketika Rasulullah Saw. Bertanya “Apakah yang kau tinggalkan untuk keluargamu di rumah?” dengan mantap Umar menjawab “Cukuplah Allah Swt. dan RasulNya”. Peristiwa tersebut tidak diketahui siapapun, kecuali oleh Rasulullah sendiri.
Umar bin Khathab yang sejak awal iri dengan kedermawanan Abu Bakar, berpikir bagaimana supaya ia mengalahkan sahabatnya tersebut. Umar mendermakan setengah bagian dari hartanya untuk kepentingan Islam. Dengan wajah pongah Umar menyerahkan hartanya itu pada Rasulullah, seraya bertanya “berapakah harta yang AbuBakar dermakan ya Rasulullah?” Rasulullah Saw. Menjawab “Abu Bakar mendermakan seluruh harta bendanya untuk Islam”. Mendengar jawaban Rasulullah, Umar tidak bisa berkata apa-apa. Dalam hati ia mengucap tasbih seraya menggumam “ aku selalu berada di bawah Abu Bakar dalam hal kebajikan”
Apakah titik pointnya?
Dalam kehidupan sehari-hari manusia pasti berinteraksi satu sama lain. Mereka berinteraksi dalam rangka menyelesaikan masalah, baik yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah. Hal tersebut disebabkan fitroh (potensi) yang melekat pada dirinya. Allah berfirman dalam Q.S Taha: 50 “ Tuhan kami ialah Tuhan yang telah memberikan tiap-tipa sesuatu bentuk kejadiannya, memberinya petunjuk”. Firman tersebut menjelaskan bahwasanya manusia adalah materi ciptaanNya. Kemudian Allah memberikan potensi kehidupan yang terdiri atas naluri-naluri (Baqo’, Nau’ dan tadayun), kebutuhan jasmani dan akal. Jadi kesimpulannya manusia berinteraksi dalm rangka memenuhi naluri, kebutuhan jasmaninya serta akalnya.
Sering kali dalam berinteraksi dengan sesama, timbul gejolak-gejolak atau benturan dalam hati manusia. Contoh peristiwa di atas, adalah buktinya. Ketika seseorang atau sekelompok orang yang sedang melakukan maksiyat, mendapat teguran dari orang lain, timbul gejolak dalam hatinya. Maka pilihannya adalah 2, yakni menerima nasihat itu sebagai sebuah kebenaran atau menolak secara mentah-mentah seraya melakukan tindakan-tindakan yang mereka anggap dapat melampiaskan gejolak yang mereka alami. Maka, tidak jarang pula timbul penyakit dalam hati seseorang sebagai efek interaksi tersebut.
Penyakit hati ini timbul karena seseorang hanya hidup berdasarkan nalurinya, yaitu naluri baqo’ tanpa mengimbanginya dengan proses berpikir yang benar. Orang-orang semacam ini, Allah gambarkan dalam firmanNya “Kami telah menjadikan untuk isi neraka jahanam, kebanyakan daripada menusia dan jin. Mereka mempunyai hati namun tidak digunakan untuk berpikir. Mereka mempunyai mata namun tidak digunakan untuk melihat. Mereka mempunyai telinga namun tidak digunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan bahkan lebih hina lagi” (Q.S Al-A’raf: 179). Semoga kita tidak termasuk orang semacam itu.
Pada dasarnya penyakit hati dalam diri manusia, banyak sekali macamnya. Akan tetapi di sini akan dipaparkan tiga penyakit hati yang kebanyakan menjankiti diri manusia. Tiga penyakit hati tersebut antara lain, iri, dengki dan sombong. Iri adalah keinginan untuk memperoleh kenikmatan sebagaimana yang dimiliki oleh orang lain. Dengki adalah harapan supaya kenikmatan yang diperoleh orang lain jadi hilang karena menganggap mereka kurang pantas memilikinya. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
Setiap orang sebenarnya pasti memiliki sikap iri. Hanya saja, sikap iri tersebut mengarah pada kedekatan manusia kepada Robnya atau justru sebaliknya, yakni mengarah pada hal-hal yang bersifat keduniawian belaka. Seorang yang kuat keimanannya pasti akan menyadari bahwa yang terpenting adalah kualitas, bukan kuantitas. Maka dia akan senantiasa menerima dengan ikhlas setiap pemberian Allah padanya. Akan tetapi dalam hal ibadah dan amal kebajikan, ia selalu iri kepada orang lain yang lebih. Hal tersebut telah dicontohkan dalm kisah Abu bakar dan Umar bin Khatob. Digambarkan dalam kisah tersebut, Umar selalu iri dengan Abu Bakar yang selalu unggul dalm hal peribadatan kepada Allah, termasuk dalam mendermakan hartanya di jalan Allah Swt. Rasulullah Saw.pun membenarkan sikap iri apabila mengarah pada ketaatan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori, beliau bersabda “Tidak ada iri kecuali dalam dua hal yaitu terhadap seorang laki-laki yang dikaruniai Al-Qur’an (ilmu) oleh Allah kemudian ia menunaikan isinya dan terhadap laki-laki yang dikaruniai harta oleh Allah kemudian ia membelanjakannya untuk kebenaran” . Allah Swt.pun berfirman”….Allah menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikanNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukanNya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan” Berdasarkan ayat tersebut, sangat jelas bahwa Allah memerintahkan kita untuk bersikap iri manakala melihat orang lain lebih tinggi ketaatannya pada Allah dan RasulNya. Bukan iri pada hal-hal yang bersifat keduniawian.
Dengki merupakan implementasi dari rasa iri dalam diri seseorang, khususnya iri terhadap hal yang bersifat duniawi. Maka bisa dipastikan, jika rasa iri dalam diri seseorang tertuju pada ketaatan pada Allah rasa dengki itu tidak ada karena ia akan senantiasa bahagia kalau orang-orang disekitarnya dapat menjalankan ketaatan pada Allah tanpa mengendorkan ketaatannya sendiri.
Sikap sombong, menjadikan seseorang merasa bahwa dirinya paling kuat, paling pandai, paling ditakuti. Orang semacam ini suka berbuat sewenang-wenang menurut kemauannya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain. Dia selalu merasa bahwa dirinyalah yang paling benar. Sikap seperti itu, menjadikan amal seseorang sesuai dengan dorongan atau perintah hawa nafsunya. Menurut Ibnu Ath-Tholi’ah, sebab-sebab orang terjebak dalam kesombongan yaitu karena:
a. Tidak adanya iman dalam hatinya
b. Merasa mempunyai kelebihan dibandingkan dengan orang lain dalam bernagai hal
c. Keinginan untuk dipuji, ditakuti, dihormati dan dimuliakan
Bagaimana Menangkal Penyakit Hati???
Agar kita terhindar dari bahaya penyakit hati, hal-hal yang bisa kita laukan antara lain:
a. Selalu merasa bahwa diri kita adalah hamba Allah memiliki banyak kekurangan
b. Cinta dan takut hanya kepada Allah dan Rasulullah
c. Membuka lebar hati untuk menerima ilmu dan nasihat dari orang lain
d. Ikhklas dalam beramal
e. Mempunyai harapan yang kuat hanya kepada Allah
f. Selalu meniatkan amal perbuatan hanya untuk beribadah kepadaNya
Wallahua’lam bishowwab

DAFTAR BACAAN
Abdullah, Muhammad Husain. 1996. Mafahim Islamiyah Menajamkan Pemahaman Islam. Bangil: Al-Izah
Abdurrahman, Hafidz. 1998. Islam: Polotik dan Spiritual. Singapore: Lisan Al-Haq
Atha ‘illah, Ibnu. 2005. Intisari Kitab Al Hikam. Gita Media Press
Khalid, Muh. Kholid. 1981. Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.
Terjemah Al-Qur’an

Allah,
Atas mauMu aku melulu
meretas jemu
yang sungguh telah mengaduh
dalam kalbu
Allah,
hadapkan selalu
perasaan, pemikiran
dan amalku
hanya kepadaMu
Berikan padaku
ketajaman akal
kejernihan kalbu
agar aku mampu memilih kebaikan-kebaikan
Atas Mu

Sebuah ungkapan tertulis dalam sebuah majalah komunikasi mahasiswa “Aku menulis maka aku ada”. Ya, yang sedang saya baca adalah kutipan wawancara antara seorang dosen dengan seorang kuli media. Wawancara tersebut berisi tentang kemauan seorang dosen untuk menulis. Tulisan yang dimaksud tentu adalah sebuah karya ilmiah. Wujudnya, bisa buku atau jurnal ilmiah lainnya.
Pada dasarnya setiap dosen punya kemampuan menulis. Tentunya kemampuan tersebut harus dibarengi dengan kemauan yang keras dan komitmen yang tinggi. Seorang dosen harus harus memiliki kemampuan melakukan menejemen waktu yang baik, antara mengatur waktu untuk kepentingan tugas mengajar, riset dan pengabdian kepada masyarakat.
Lalu bagaimana agar semangat menulis juga dimiliki oleh seorang mahasiswa? Drs. Slamin, M.Comp.Sc, Ph.D, menyatakan bahwa untuk mengembangkan semangat menulis dalam diri seorang mahasisiwa adalah menuntut mereka untuk melakukan riset atas suatu permasalahan. Hal tersebut bertujuan agar mereka terhindar dari budaya copy paste atau plagiasi

Seperti apa

telah dia katakan

berulang

dan

gemanya sampai

padaku jua

pagi hadir

hanya saat itu saja

siang dan senja

hanya rahasia

tak terprikan

siapa mau tebak!

aku berdiri di pagi ini saja menunggu

dan meretas mati

Pengertian Gaya bahasa

            Menurut Qalyubi, gaya bahasa (style) adalah cara penggunaan bahasa dari seseorang dalam konteks tertentu dan untuk tujuan tertentu (Muzakki, 2009: 9). Style diturunkan dari bahasa Latin, yaitu stilus yang berarti semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas dan tidaknya suatu tulisan pada lempengan tersebut (Keraf, 2008: 112). Abrams menyatakan bahwa gaya bahasa (style) adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan (Nurgiantoro, 2002: 276). Lecch dan Short juga berpendapat, stlyle adalah penggunaan bahasa dalam konteks tertentu, oleh pengarang terntu untuk tujuan tertentu (Nurgiantoro, 2002: 277). Menurut penjelasan Harimurti Kridalaksana (Kamus Linguistik (1982), gaya bahasa (style) mempunyai tiga pengertian, yaitu:

1.  pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis;

2.  pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu;

3.  keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra.

Maka style dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis dengan tujuan memperoleh efek tertentu.

Keraf berpendapat, gaya bahasa atau style menjadi masalah atau bagian dari diksi atau pilihan kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frasa atau klausa tertentu untuk menghadapi situasi tertentu. Oleh sebab itu, persoalan gaya bahasa meliputi semua hierarki kebahasaan, yang terdiri atas; pilihan kata secara individual, frasa, klausa, dan kalimat, bahkan mencakup pula sebuah wacana secara keseluruhan (2008: 112). Sejalan dengan pemikiran tersebut, Nurgiantoro menyatakan bahwa style ditandai oleh ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk-bentuk bahasa figuratif penggunaan kohesi dan lain-lain (2002: 276). Kedua pernyataan di atas dapat menyimpulkan bahwa style tidak hanya menekankan pada satu apek kebahasaan saja, melainkan semua kierarki kebahasaan.

 

 

Pengertian Gaya berdasarkan Aspek Kesejarahan

Pengertian style dalam aspek kesejarahan dilakukan dengan memberikan gambaran tentang style pada masa (1) sebelum Masehi, (2) abad pertengahan dan renaissance sekitar tahun 1500-1700, (3) neoklasik dan romantic sekitar tahun 1700-1798, (4) modernism yang berkembang setelah perang dunia I dan (5) postmodernisme yang berkembang setelah perang dunia II.

Pengertian Style Sebelum Masehi

Style pada masa ini ditekankan sebagai sarana retorik. Aminudin (1995: 2), menyatakan bahwa dalam studi retorik dikenal adanya tiga tahapan dalam memaparkan gagasan. Pertama, invensi, yakni tahap pelintasan gagasan dan penemuan ide. Kedua, disposisi, yakni tahap penuysunan gagasan hingga membentuk kesatuan isi tertentu sesuai dengan ide yang ingin disampaikan. Ketiga, cara (style) dalam memaparkan isi tuturan yang telah disusun melalui wahana kebahasaan. Maka, style di sini hanya dihubungkan dengan aspek kebahasaan yang lebih ditekankan pada faktor keindahan sebagai hiasan atau ornamen, disebut juga dengan bahasa klise.

Pada masa Quintilian, style dibedakan antara a high, a middle, dan low style (Aminudin, 1995: 3). Pada setiap tingkatan style tersebut, berlaku berbagai norma yang harus dipenuhi oleh penutur sesuai dengan jenis komunikasi yang akan dilakukan. Tentu, hal tersebut menimbulkan perbedaan antara penutur yang satu dengan yang lain. Pada akhirnya, ukuran sesorang dalam berbahasa dinilai berdasarkan kemampuan, keluwesan dan kefasihan dalam berbahasa sesuai dengan tingkatan gaya yang harus digunakan.

Selain hal-hal di atas pada masa sebelum masehi dikenal adanya pernyataan stilus virum arguit atau gaya mencerminkan orangnya (Aminudin, 1995: 4). Pernyataan di atas memiliki maksud bahwa setiap orang pasti memiliki gaya (style) yang berbeda satu sama lain. Dalam pemahaman style sebelum masehi, perbedaan tersebut disebabkan oleh tingkat pendidikan, kelompok sosial maupun lingkungan social budaya seseorang.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, Aminudin memberi pengertian style dalam wawasan retorika klasik, yakni pada masa sebelum masehi adalah teknik serta gaya bahasa seseorang dalam memaparkan gagasan sesuai dengan ide dan norma yang digunakan sebagai mana ciri pribadi pemakainya (1995: 4).

Pengertian Style pada Abad Pertengahan dan Masa Renaissance

Pada masa ini, style di artikan sebagai cara menyusun dan menggambarkan sesuatu secara tepat dan mendalam hingga dapat menampilkan nilai keindahan tertentu sesuai dengan impresi dan tujuan pemaparnya (Aminudin, 1995: 9). Maksud dari pernyataan tersebut adalah, bahwa style merupakan cara menyusun dan menggambarkan sesuatu secara tepat dan mendalam sesuia kesan yang ditangkap oleh indra pemaparnya dan tujuan apa yang ingin ia capai. Maka, dapat diidentifikasi, mulai ada kemajuan pemahaman terhadap style dibandingkan dengan masa sebelum masehi atau masa retorika klasik.

Bila pada masa sebelum masehi style ditekankan pada norma yang berlaku dalam masyarakat mengikat seseorang untuk menampilkan style sesuai dengan pendidikan dan lingkungan sosialnya, pada masa ini seorang pemapar dapat lebih mendalai objek yang ia lihat dan memaparkan sesuai dengan kesan yang ia tangkap dan tujuannya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Aminudin bahwa apabila pada masa sebelum masehi kajian style bersifat normatif, kajian style pada masa ini bersifat evaluatif (1995: 9). Artinya, seseorang (pemapar) bebas menyatakan penilaiannya terhadap objek kajian dengan stylenya sesuai dengan kesan yang telah ia tangkap.

Pengertian Style pada Masa Neoklasik dan Romantik

Kehidupan sastra pada masa ini ditandai dengan keinginan mempertahankan tradisi. Berbagai macam kaidah genre dimantapkan dengan gagasan bahwa, meskipun karya sastra disikapi sebagai seni , seniman itu sendiri tetap dipandang sebagai bagian dari masyarakatnya. Karya seni yang mampu menggambarkan pengalaman secara kaya, memberikan sentuhan perasaan dan kebenaran dianggap sebagai karya sastra yang bernilai luhur ( Aminudin, 1995: 12). Berdasarkan pernyataan aminudin tersebut, style seorang senimanlah yang mampu menghantarkan sebuah karya sastra menjadi seni yang pada akhirnya dapat dinilai sebagai karya yang luhur. Hal ini disebabkan, seorang seniman sebagai anggota masyarakat mampu menangkap kesan-kesan dalam kehidupan dalam bentuk pengalaman, baik yang dialaminya sendiri, maupun oleh orang lain. Hasilnya, seorang seniman mampu menghasilkan karya yang bersifat mimesis.

Selain itu, masa neoklasik juga ditandai adanya stylistc decorum yakni doktrin yang berisi antara lain penentuan batas antara puisi dengan drama, maupun pemilihan jenis puisi dengan berbagai ciri pembeda yang menandainya (Aminudin, 1995: 12-13).

Masa neoklasik lebih lanjud diikuti munculnya masa romantik yang menekankan karya sastra, yakni puisi akan dianggap baik bila bahasa yang digunakan mencerminkan spontanitas, kekuatan, kedalaman emosi serta kejernihan refleksi. Bertolak dari pernyataan tersebut, style dapat diartikan sebagai bentuk pengungkapan ekspresi kebahasaan sesuai dengan kedalaman emosi dan sesuatu yang ingin direfleksikan pengarang secara tidak langsung (Aminudin, 1995: 13).

Pengertian Style pada Masa Modernisme

Masa ini berlangsung setelah perang dunia I. Wawasan yang dominan antara lain relatifitas konsep kesatuan dan kemapanan system, konsep unity dan harmony dalam wawasan romantic mengalami pengubahan dan dislokasi sebagai pilihan pengganti prinsip koherensi (Aminudin, 1995: 17). Akibat konsep ini standar penilaian gaya mulai kehilangan arah. Gaya ditentukan sebagai bentuk ekspresi individual setiap pengarangnya.

Jenis-jenis Gaya Bahasa (Style)

Gaya bahasa dapat ditinjau dari berbagai macam sudut pandang. Keraf membagi gaya bahasa, dengan uraian sebagai berikut.

Gaya Bahasa (style) Dilihat dari Segi Nonbahasa

Dilihat dari segi nonbahasa, style terdiri atas.

  1. Berdasarkan pengarang. Gaya (style) yang disebut sesuai dengan nama pengarang dikenal berdasarkan ciri pengenal yang digunakan pengarang atau penulis dalam karangannya. Pengarang yang kuat dapat mempengaruhi orang-orang sejamannya (2008: 115). Contoh gaya bahasa ini, misalnya gaya Chairil dan gaya Sutardji dalam penggalan puisi mereka di bawah ini.

Chairil.

Penerimaan

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

Kangan tunduk! Tentang aku dengan berani

……

( Pradopo, 2003: 133-134)

Sutardji

Amuk

tubuh tak habis ditelan laut tak habis dimatahari

luka tak habis dikoyak duka tak habis digelak

langit tak habis dijejak burung tak habis di

kepak erang tak sampai sudah malam tak sampai

gapai itulah aku

(Atmazaki, 1993: 71)

Berdasarkan dua penggalan puisi penyair di atas, dapat dilihat perbedaan gaya antara keduanya.Chairil anwar melalui puisinya berjudul Penerimaan memiliki gaya romantis dengan penggunaan bahasa klise, yakni majas simile untuk mengungkapkan perasaannya terhadap ‘kau’. Lain halnya dengan Sutardji Coulsum Bakhri yang selalu menampilkan puisi-puisinya yang padat kata dan lebih menekankan pada aspek bunyi. Hal tersebut diasumsikan bahwa kata tidak sepenuhnya dapat menggambarkan perasaan.

  1. Berdasarkan krun waktu. Gaya (style) yang muncul karena ciri-ciri tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu. Misalnya, gaya lama, gaya klasik dan gaya sastra modern (2008: 116). Contoh gaya bahasa berdasarkan kurun waktu, dapat dilihat pada sastra Indonesia angkatan 20 dan sesudahnya. Periodisasi sasttra Indonesia oleh  Boejoeng Saleh pada tahun 1958 (Pradopo, 2003: 15), menyatakan bahwa periode antara tahun 20-an hingga tahun 1933 terutama mengemukakan pergulatan para sastrawan dengan roman-roman berbahasa melayu lama sebagai gayanya tetapi mengandung unsure-unsur modern di dalam isinya. Periode antara 1933 hingga 1942 dikatakan bahwa kesusastraan telah tegas merupakan kesusastraan Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa melayu (Pradopo, 2003: 16).
  2. Berdasarkan medium. Medium dalam hal ini adalah bahasa dalam arti alat komunikasi. Tiap bahasa, karena struktur dan situasi social pemakaiannya, dapat memiliki corak tersendiri. Sebuah karya yang berasal dari bahasa Jerman akan memiliki gaya yang berlainan bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Prancis atau lainnya (2008: 116).
  3. Berdasarkan Subjek. Subjek yang menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah karangan dapat mempengaruhi pula gaya bahasa sebuah karangan. Berdasarkan hal ini, dikenal gaya; filsafat, ilmiah (hokum, teknik, sastra dsb), popular, didaktik dan lain-lain (2008: 116).
  4. Berdasarkan tempat. Gaya (style) ini mendapat namanya dari lokasi geografis karena ciri-ciri kedaerahan mempengaruhi ungkapan atau eksppresi bahasanya. Misalnya; gaya Jakarta, gaya Jogjakarta dan lain-lain (2008: 116).
  5. Berdasarka hadirin. Seperti halnya dengan subjek maka hadirin atau jenis pembaca juga mempengaruhi gaya yang dipergunakan seorang pengarang. Contohnya; gaya popular yang cocok untuk rakyat banyak, gaya sopan yang cocok untuk lingkungan istana atau lingkungan yang terhormat (2008: 116).
  6. Berdasarkan tujuan. Gaya (style) berdasarkan tujuan memperoleh namanya dari maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang yang ingin mencurahkan gejolak emotifnya. Contoh gaya berdasarkan tujuannya antara lain; gaya sentimental, gaya sarkastik, gaya diplomatis gaya agung atau luhur gaya teknis atau informasional dan gaya humor.

Gaya Bahasa (Style) Dilihat dari Segi Bahasa

Dilihat dari sudut bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan, gaya bahasa (style) dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsur bahasa yang dipergunakan, antara lain.

  1. Gaya Bahasa (Style) Berdasarkan Pilihan Kata

Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa (style) mempersoalkan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Dengan kata lain, gaya bahasa (style) ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu (2008: 117). Pernyataan tersebut, mengindikasikan bahwa gaya bahasa (style) dilihat berdasarkan pemilihan kata (diksi) dengan asumsi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai ataukah tidak. Selain itu, gaya (style) ini mempersoalkan ketepatan strutur unsur-unsur bahasa, baik kata, frasa, klausa sampai kalimatnya.

Gaya bahasa (style) berdasarkan pilihan kata dapat dilihat pada gaya bahasa resmi, gaya bahasa tak resmi dan gaya percakapan. Gaya bahasa resmi adalah gaya dalam bentuknya yang lengkap, gaya yang dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang dihapkan mempergunakannyadengan baik dan terpelihara. Gaya bahasa tak resmi dipergunakan dalam kesempatan yang tidak formal atau kurang formal. Gaya bahasa percakapan adalah gaya yang memiliki pilihan kata berupa kata-kata popular dan kata-kata percakapan (2008: 117-120).

  1. Gaya Bahasa (Style) Berdasarkan Nada

Gaya bahasa (style) berdasarkan nada didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana Sugesti tersebut akan lebih nyata bila diikuti dengan sugesti suara dari pembicara, bila yang dihadapi adalah bahasa lisan (2008: 121). Gaya bahasa berdasarkan nada tidak dijelaskan lebih lanjud karena nada seorang pengarang tidak dapat diidentifikasi melalui teks atau karyasastra.

  1. Gaya Bahasa (Style) Bardasarkan Struktur Kalimat

Berdasarkan struktur kalimatnya, gaya bahasa (style) dapat dapat dibedakan menjadi.

1)      Klimaks, merupakan gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya (2008: 124).

2)      Antiklimaks, mrupakan gaya bahasa yang gagasan-gagasannya yang diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting (2008: 125).

3)      Pararelisme, semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama (2008: 126)

4)      Antitesis, merupakan gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan (2008: 126)

5)      Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk member tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai (2008: 127). Repetisi dapat berupa kata, frasa, klausa atau kalimat. Repetisi di bagi menjasdi 3, yaitu:

(1)    epizeuksis adalah repetisi yang bersifat langsung. Kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Contoh: “Kita harus bekerja, bekerja, sekali lagi bekerja !”

(2)   Tautes adalah repetisi atas sebuah kata burulang-ulang  dalam sebuah konstruksi. Contoh: “kau diamkan aku, aku diamkan kau. Kita tak lagi salaing menyapa”

(3)   Anafora adalah repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada setiap baris atau kalimat berikutnya. Contoh: Orang yang beriman adalah orang yang membenarkan secara pasti tanpa keraguan terhadap keberadaan Allah, malaikat, kitab suci, para Rasul, hari kiamat dan qodo dan qodar. Orang yang beriman pasti akan menjalani kehidupan sesuai dengan peraturan Allah.

(4)   Epistrofa adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir baris atau kalimat beruntun. Contoh:

Api yang kau sulut, amarah kau kobar jadi lukaku

Ikatan yang kau putus, fitnah kau tebar  jadi lukaku

Kau bukan kawanku yang dulu

Kupikul semua jadi lukaku.

(5)   Simploke adalah repetisi yang awal dan akhir  beberapa baris atau kalimat berturut-turut. Contoh:

Biar kau jatuh tersungkur! Peduli setan diriku

Biar kau lemah terkapar! Peduli setan diriku

Biar kau perih merintih! Peduli setan diriku

Biar kau teriak menghujatku! Peduli setan diriku

(6)   Mesodiplosi adalah repetisi di bagian tengah kalimat tiap baris atau beberapa kalimat beruntun. Contoh:

Burung camar terbang pulang mencari sarang

Marmut-marmut tinggalkan ladang mencari kandang

Ke mana sang pencinta akan pulang?

(7)   Epanalepsis adalah repetisi yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama. Contoh:

Kupersembahkan jiwa ragaku demi tanah airku

Kujunjung tinggi namamu bumi pertiwiku

(8)   Anadiplosis adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya. Contoh

Darah membuncah pekat

Pekat jiwamu membara api

Api perjuangan atas hak

Hak mereka, tertindas yang batil

 

  1. Gaya Bahasa (Style) berdasarkan Langsung Tidaknya Makna

Gaya bahasa (style) berdasarkan makna diukur dari langsung tidaknya makna, yaitu apakah acuan yang dipakai masih mempertankan makna denotatifnya atau sudah ada penyimpangan (2008: 129). Penyimpangan tersebut dapat berupa ejaan, pembentukan kata, konstruksi kalimat, klausa dan frasa, atau aplikasi sebuah istilah. Penyimpangan-penyimpangan tersebut memiliki tujuan untuk memperoleh efek tertentu. Keraf menyebutkan efek tersebut, antara lain; kejelasan, penekanan, hiasan, humor dan lan-lain (2008: 129).

Gaya bahasa (style) berdasarkan langsung tidaknya makna, dapat dibedakan menkadi dua kelompok, dengan penjelasan di bawah ini.

1)      Gaya Bahasa Retoris adalah semata-mata merupakan penyimpangan dari konstrukasi biasa untuk mencapai efek tertentu ( Keraf, 2008: 129). Efek tersebut dapat berupa kejelasan, penekanan, hiasa, humor dan lain-lain. Maca-maeam gaya bahasa ratoris, antara lain.

(a)    Aliterasi merupakan gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama (Keras, 2008: 130). Contoh:

Tak mampu lagi teriak

Tandas terlepas oleh bisu

(b)   Asonansi merupakan gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vocal yang sama (Keraf, 2008: 130). Contoh:

Hanya raga bersuara

Jiwa telah mati tergerus hampa

Tak pelu kau

Tanya mengapa

Hanya keluh putaran waktu!

(c)    Anastrof atau Inversi adalah semacam gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat (Keraf, 2008: 130). Contoh: “acuh tak acuh dia padaku, biar! Tak sudi lagi aku padanya”

(d)   Apofasis atau Presterisio adalah sebuah gaya yang menegaskan susuatu tapi tampaknya menyangkal (Keraf, 2008: 130). Contoh: “ aku tidak ingin semua orang yang ada di sini tahu, kau telah  mengambil dana proyek ini”

(e)    Apostrof adalah gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin yang tidak hadir. Dalam pidato yang disampaikan pada suatu masa, seorang orator secara tiba-tiba mengarahkan pembicaannya langsung kepada barang atau objek khayalan atau kepada sesuatu yang abstrak sehingga tampaknya ia tidak bicara kepada hadirin (Keraf, 2008: 131). Contoh: “ Allah…ya Ghafar…, ampunilah kami yang telah ingkar terhadap sebagian ketentuanMu. Kami mohon lepaskan kami dari belenggu kefasikan ini”

(f)    Asindenton adalah gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat. Beberapa kata, frasa atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung, melainkan dengan tanda koma (Keraf, 2008: 131). Contoh: Aku memang lumat dalam putaran waktu, aku bisa memandang tiap detiknya, aku merasakan riuh riah kegembiraan, takzim rasa syukur, kecewa, sedih, lelah, diam, kosong, berpikir, melangkah, berlari, tersengal, berpeluh-peluh, putus asa, bangkit, ya begitulah aku larut.

(g)   Polisindeton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asyndeton (Keraf, 2008: 131). Berarti, kata, frasa atau klausa yang sederajat dihubungkan oleh kata sambung. Contoh: lalu kau pergi dan tak pernah kembali lagi dan aku di sini menanti dan terus menanti.

(h)    Kiasmus adalah semacam acuan gaya bahasa yang terdiri atas dua bagian, baik frasa atau klausa yang sifatnya berimbang dan dipertentangkan satu sama lain tetapi susunan frasa atau klausanya itu berbalik bila dibandingkan dengan fras atau klausa lainnya (Keraf, 2008: 132). Contoh: Kebahagiaanku hanya sekejap saja, hanya sesaat semua menguap.

(i)     Elipsis adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku (Keraf, 2008: 132). Contoh: “Hmm, sepagi ini kamu baru bangun, dasar kamu…..”

(j)     Eufemismus adalah mempergunakan kata-kata dengan arti yang baik atau dengan tujuan yang baik (keraf, 2008: 132). Contoh: “Maaf, Pak berdasarkan pantauan saya sebagai wali kelas, putra bapak tidak begitu bias mengikuti pelajaran seperti teman-temannya”

(k)   Litotes adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri (Keraf, 2008: 132). Contoh: “Maaf kami tidak bisa menjamu saudara-saudara selayaknya. Ini hanya hidangan sekedarnya saja”

(l)     Histeron Proteron adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar (Keraf, 2008: 133). Contoh: Jendela ini memberimu kamar untuk dapat berteduh dengan tenang.

(m)  Pleonasme dan Tautologi adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasa (Keraf, 2008: 133). Contoh:

  • Pleonasme: Aku melihat kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri
  • Tautologi: “Tolong ya, yang sebelah sisni maju ke depan!”

(n)   Perifrasis adalah gaya yang mirip dengan pleonasme (Keraf, 2008: 134), yaitu mempergunakan banyak kata untuk mengungkapkan satu gagasan. Contoh: Hari ini matahari bersinar dengan sangat terik (cuaca hari ini sangat panas)

(o)   Prolepsis adalah semacam gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi (Keraf, 2008: 134). Contoh: Di hari naas itu ia mengendarai mobil wanra biru

(p)   Hiperbol adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan (Keraf, 2008: 135). Contoh: “Kesabaranku sudah pada puncak ubun-ubun, jangan cari gara-gara kalau tidak mau meledak semua kemarahanku!”

2)      Gaya Bahasa Kiasan adalah gaya bahasa yang dibentuk berdasarkan perbandingan dan persamaan (Keraf, 2008: 136). Membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Gaya bahasa kiasan dapat digolongkan menjadi, sebagai berikut:

(a)    Persamaan atau Simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit (Keraf, 2008: 138). Sesuatu dibandingkan dengan ssesuatu yang lain dengan ciri adalnya kata yang menyatakan perbandingan, misalnya; seperti, bagai, bag, laksana, sebagai. Contoh: Ia cantik laksana bidadari

(b)   Metafora adalah adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat langsung (keraf, 2008: 139). Kelangsungan tersebut terlihat dengan tidak adanya kata yang menunjukkan perbandingan; seperti, bagai, bag, laksana dan lain-lain. Contoh: Jangan jadi sampah masyarakat

(c)    Alegori adalah perbandingan yang mengalami perluasan (Keraf, 2008: 140). Perluasan tersebut dapat mengisahkan manusia, hewan atau cerita lain yang mengandung kiasan. Contoh: Jangan jadi katak dalam tempurung

(d)   Personifikasi adalah gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati yang seolah-olah memiliki sifat insani. Contoh: Bulan pucat pasi, saatnya aku berangkat bekerja.

(e)    Alusi adalah gaya bahasa yang berusaha mensugestikan kesamaan antara orang, tempat atau peristiwa (Keraf, 2008: 141). Contoh: Mari berkunjung ke Paris Van Java (Bandung)

(f)    Eponim adalah suatu gaya yang menyamakan nama seorang tokoh atau orang terkenal dengan sifat benda lain. Contoh: “Kamu memang Hulk” (kuat)

(g)   Epitet adalah suatu acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau suatu hal (Keraf, 2008: 141). Acuan tersebut menggantikan seseorang atau benda. Contoh:  Simba, si raja rimba yang bijaksana

(h)   Metonimia adalah gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena mempunyai pertalian yang sangat dekat (Keraf, 2008: 142). Contoh: Laki-laki itu menyulutkan api ke ujung Djarum Coklat

(i)     Antonomasia adalah khusus dari sebuah sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri atau gelar resmi atau jabatan untuk menggantikan nama diri (Keraf, 2008: 142). Contoh: “Pak mantra, saya mohon dating ke rumag saya, Nenek sedang gawat”

(j)     Hipalase adalah gaya bahasa yang menggunakan kata tertentu untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dekenakan pada sebuah kata yang lain (Keraf, 2008: 142). Contoh: Sepagi sesiang ini mata hari tersenyum malu-malu (mendung)

(k)   Ironi adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan maknaberlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya (Keraf, 2008: 143). Contoh: “pandai betul kau, berulang-ulang mengikuti kuliah masih saja D”

(l)     Sinisme adalah memiliki sifat hamper sama dengan ironi tetapi lebih kasar. Contoh: Aku mendengar Ibu berkata pada ayah “ kau memang sorang revolusioner sejati tapi kau adalah suami yang menjijikkan”

(m)  Sarkasme adalah gaya bahasa yang lebih kasar dari ironi dan sinisme. Contoh: “Bangsat kau, anak jadah!

(n)   Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu (Keraf, 2008: 144). Gaya bahasa ini bertujuan untuk mengritik kelemahan suatu keadaan agar kelemahan tersebut segera mendapat perbaikan. Satir dapat berupa ironi atau bukan. Contoh:

Inilah negeri para bedebah

Negeri yang rakyatnya makan

Dari hasil mengais sampah

(o)   Inuendo adalah sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sederhana (Keraf, 2008: 144). Contoh: “Ah..munkin pemerintah tidak tahu, jalan utama desa yang sering mereka lewati telah rusak parah karena mereka ada dalam mobil mewah”

(p)   Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna sebaliknya (Keraf, 2008: 144). Contoh: “Wah…cantik betul dirimu dengan riasan tebal itu”

(q)   Paronomasi adalah kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi (Keraf, 2008: 145). Kemiripan tersebut membentuk parody kata. Contoh: “hai Sri…Srikaya…Sri kaya…monyet..”

Uraian gaya bahasa oleh Keraf di atas, memiliki sifat kerincian dalam pengelompokannya, yaitu berdasarkan segi nonbahasa, segi bahasa. Selain itu keraf juga membedakan antara gaya bahasa dengan majas. Uraian gaya bahasa oleh Keraf, memasukkan majas kedalam gaya bahasa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ducrot dan Todorov (zaimar), bahwa majas merupakan gaya bahasa dalam tataran semantik. Maka dapat disimpulkan bahwa pembagian jenis gaya bahasa dapat didasarkan pada semua hal yang melingkupi sebuah wacana sastra, baik dari dari segi nonbahasa, maupun dari segi bahasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IMAN BUKAN GENETIS

Suatu ketika seorang pemuda bernama Salman Alfarisi diutus oleh ayahnya, seorang yang beragama majusi. Dalam perjalanan, pemuda itu bertemu dengan orang-orang nasrani sedang menjalankan ibadahnya. Betapa ia kagum dengan cara orang-orang itu beribadah, sangan berbeda dengan caranya dan kaum majusi yang menyembah api. Karena kekagumannya itu, ia memutuskan untuk berpindah agama, menjadi pemeluk nasrani. Sang pemuda sangat taat terhadap ajaran agamanya, sampai ia berguru dari satu pendeta ke pendeta lainnya. Ketika pendeta yang membimbingnya menemui ajal, ia tak segan-segan menempuh perjalanan jauh untuk mencari pendeta yang telah ditunjuk oleh gurunya itu. Tak lain semua itu karena keimanan dan keqona’atannya pada Allah. Hingga suatu saat, pendeta yang membimbingnya, berkata bahwa akan ada seorang Rasul pembawa kebenaran di sebuah negeri di antara lembah yang subur. Hanya pada Rasul itulah sang pemuda akan menemukan iman yang sejati. Kesulitan demi kesulitan ia lalui demi mencari Rasulullah. Bahakan, ia rela menjadi budak keluarga yahudi. Kesulitan itupun terbayar dengan pertemuannya dengan Rasul agung, Muhammad Salallahu’alaihisallam. Itulah akhir pencariannya yang menghantarkan pada nur Islam dan syurgaNya.

Sahabat sekalian, itulah pencarian iman yang telah dilalui sahabat Rasul, Salman Alfarizi. Teladan yang nyata bagi kita semua bahwa keimanan yang melekat pada diri seorang hamba Allah bukanlah sesutau yang bersigafat genetis. Keimanan yang sempurna adalah pembenaran secara pasti akan keberadaan Allah, malai-akat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari kiamat dan qodo qodar (takdir Allah) dengan naluri dan akal kita sebagai seorang manusia serta berdasarkan dalil yang diturunkan Allah. Dengan segala yang telah Allah karuniakan pada kita itulah mestinya menjadi pondasi kita unntuk mengimani keenamnya tanpa keraguan sedikitpun. Allah berfirman dalam QS. At-Taubah: 23 “wahai orang-orang beriman ! janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pelindung, jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan pelindung, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk terjebak pada steryotif klasik yang mengatakan bahwa keimanan yang kita peroleh tidak lain adalah karena nenek moyang kita. Misalnya, “kalau bapaknya alim, anaknya pasti alim juga” atau “kalau sang ayah adalah penjudi, anaknya pasti penjudi”. Sejatinya keimanan itu berasal dari jalan yang kita titi untuk memperolehnya sehingga Allah rido memberikan hidayah dan imbasnya, amal yang terlaksana sesuai dengan keimanan yang melekat dalam diri.

BEWARE ‘VIRUS AL-WAHN’

Hayyoo..siapa yang kalau temannya bersin-bersin terus ingusnya srat-srot..srat-srot, menjauh atau paling gak tutup hidunglah…? Ya dong…tu kan virus menular! Ogak ah ketularan flu. Apalagi…kalau dengan virus ini…siapa yang gak kalangkabut kalau ternyata saudaranya ada yang kena HIV? Hiiiii….na’udzubillah…ogah dekat-dekat…

Namun, kayaknya sebagian dari kita mungkin gak sadar udah terjangkit virus ganas yang satu ini. Bahkan, kita enjoy dengan virus itu. Kita gak berusaha menghindar atau memberangus habis virus yang “mematikan”, khususnya bagi kita yang mengaku kaum muslimin. Waah..virus apa tu? Rasulullah Saw. Pernah bersabda “Akan datang suatu masa dalam waktu dekat, bangsa-bangsa (selain umat Islam) bersatu untuk mengalahkan kamu seperti sekumpulan manusia yang berkerumun memperebutkan hidangan makanan di sekitar mereka”. Mendengar peringatan itu, para sahabar Rasul bertanya “Wahai Rasulullah, apakah itu karena kita (umat Islam) pada waktu itu sedikit?” Ternyata menurut Rasulullah  “Bukan, bahkan kamu pada waktu itu adalah golongan yang banyak, tetapi kualitas kamu pada waktu itu bagaikan buih-buih lautan yang dibawa oleh arus air. Allah telah mencabut rasa takut dari hati musuhmu terhadap kamu dan Allah mencampakkan perasaan ‘wahn’ ke dalam hati kamu.” Sahabatpun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu wahn’?” Rasulullah menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kadang kita gak sadar telah melarutkan diri dalam aktivitas keduniawian yang sia-sia. Yang nonton konser lah..joget-joget sampai berantem..belum lagi mungkin teman-teman kita ada yang menjerumuskan diri pada dunia narkoba, pacaran sana-sini, free sex, tawuran..atau buat sobat cewek, ada yang masih hobi banget shoping, hambur-hamburin uang saku untuk hal-hal yang gak ada manfaatnya, lebih parah lagi mereka enggan menutup aurat. Semuanya dengan alasan “gaya hidup Bro!” Tahukah, inilah virus yang menjangkiti kau muslimin saat ini? Virus yang sejatinya memang ditularkan untuk menghancurkan generasi kaum muslimin. Generasi muda yang mestinya menjadi tunas-tunas kejayaan, mati padam oleh hegemony kaum kafir. Yang kaya’ gini sudah Allah gambarkan dalam firman-Nya “Mereka ingin kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir sehingga kamu menjadi sama dengan mereka” (QS. An-Nisa’: 89).

Maka, bisa dilihat hasilnya, pemimpin yang korup, orang-orang yang Cuma mau kemewahan buat dirinya sendiri dan gak perduli dengan kondisi di bawahnya. Mereka lebih mencintai dunianya. Jangan lupa sobat, Allah sudah kasih peringatan dalam QS. At-Taubah: 24, “jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusannya. Dan Allah tidak member petunjuk kepada orang-orang fasik”. Parahnya, hukum yang pakai gak valid. Semua hanya atas dasar egoisme belaka. Dan jadilah kita kaum yang terpuruk, kaum yang jauh dari kemuliaan Islam.

Kalau sudah kayak gini, gak ada kata lain buat kita selain BANGKIT!!.Sebagai generasi muda kaum muslimin, kita mesti banyak belajar, terutama balajar Islam, biar kita gak tertipu dengan jerat sesat kaum kafir. Tinggalkan aktivitas-aktivitas yang gak ada gunanya. Jangan sampai virus itu menjangkiti diri kita dan saudara-saudara sesama kaum muslimin. Mari kita buktikan bahwa kita adalah umat yang terbaik, sebagaimana Allah berfirman “kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (QS. Ali-Imron: 110). Seperti yang tertera dalam ayat tersebut, kita harus menyeru kebaikan (Islam) kepada orang-orang di sekitar kita dan jangan ragu katakana “NO!” untuk kemungkaran. Pastinya semua atas dasar keimanan kita pada Allah Swt. Ya, keimanan dan kemauan kita untuk senantiasa menyebarkan Islam, kiranya bisa jadi back up terhadap virus wahn. Wallahua’lam bishawwab

 

Mengungkapakan Pokok-Pokok Bacaan Isi  teks dengan Menbaca Cepat 300 kata per menit

Membaca cepat dilakukan dengan mata langsung meluncur, menyapu halaman-halaman teks.

7.1.1 Melatih Gerak Mata

Ikutilah petunjuk berikut ini!

a. Tatap kata kunci yang terdapat di lajur kiri sekejap.

b. Gerakkan mata ke kanan dengan cepat, temukan kata kuncinya, segera coret.

c. Jika Anda telah tiba pada kata paling kanan, segera meluncur

7.1.2 Mengukur Kecepatan Membaca

Kecepatan membaca dapat diukur dengan rumus berikut ini!

Jumlah kata yang dibaca x 60

Jumlah detik untuk membaca

Kecepatan membaca

Misalnya jumlah kata yang dibaca 1.600 kata dalam waktu 3

menit 20 detik (200 detik), maka kecepatan membaca adalah:

1600

× 60 = 480 kpm (kata per menit)

200

Untuk menghitung jumlah kata dalam bacaan dapat dipergunakan

cara berikut:

1. hitunglah jumlah kata yang terdapat dalam satu garis penuh.

2. hitunglah jumlah baris pada tiap kolom/halaman yang bersangkutan.

3. hasil perkalian antara jumlah kata dan jumlah baris adalah jumlah kata yang terdapat dalam kolom atau halaman yang bersangkutan. Jika bacaan itu terdiri dari beberapa halaman, jumlah kata ialah hasil kali dari jumlah kata tiap baris, jumlah baris, dan jumlah halaman.

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kecepatan

membaca.

􀂄 Jangan mengeluarkan suara  ketika membaca!

􀂄 Jangan gerakkan bibir saat membaca!

􀂄 Jangan gerakkan kepala ke kiri  dan ke kanan saat membaca!

􀂄 Jangan menggunakan jari untuk  menunjuk teks saat membaca!

􀂄 Jangan lakukan regresi saat  membaca!

􀂄 Jangan melafalkan kata demi kata, meskipun membaca dalam     hati!

Bacalah teks  di bawah ini !

Sebuah Keluarga untuk Si Kecil

Tawa dan celoteh anak-anak terdengar dari balik dinding. Kegaduhan itu tak mengusik 15 perempuan yang sedang berdiskusi di dalam kelas. Mereka asyik bertukar pengalaman dan mengasah teori mengenai pola-pola pengasuhan anak. Dua pekan silam, 15 wanita itu datang jauh-jauh ke Lembang, Jawa Barat, meninggalkan rumahnya di Banda Aceh, Meulaboh, dan Medan. Mereka adalah calon ibu asuh yang sedang menjalani pelatihan di SOS Kinderdorf, yang lebih dikenal sebagai SOS Desa Taruna Lembang.

Motif mereka seragam. Ida Riyani, 25 tahun, perempuan asal Banda Aceh itu, bergabung dengan SOS Kinderdorf karena ingin membantu anak-anak di kotanya yang kehilangan orang tua akibat bencana tsunami. Ia tahu SOS Kinderdorf dari siaran radio. Kendati sempat kaget setelah mengetahui ada larangan menikah selama menjadi ibu asuh, Ida tetap meneruskan langkahnya. “Menikah juga ujung-ujungnya mempunyai anak. Di sini tidak perlu menikah tapi sudah punya anak. Sama saja.”

Peserta lain adalah Rosamaeda Purba, 42 tahun. Hati janda beranak dua itu terpincut SOS Kinderdorf karena lembaga yang kegiatannya sekilas mirip panti asuhan itu melarang anak-anak asuhnya diadopsi. “Saya tertarik metode mendidik anak di sini dengan pendekatan sebuah keluarga,” ujar perempuan yang tadinya berdagang baju di Medan itu.

Mereka semua akan menjalani pendidikan di Lembang selama tiga bulan. Sebuah korting besar dari masa pelatihan yang lazimnya selama dua tahun, mulai dari proses wawancara, tes, pembekalan teori, dan magang menjadi ibu asuh. “Ada pengecualian,” kata pimpinan SOS Desa Taruna Lembang, Sutrisno Setiawan.

Para peserta pelatihan itu diterima menjadi ibu asuh di perkampungan SOS Desa Taruna, yang sedang dibangun di Banda Aceh, Meulaboh, dan Medan. Mereka akan mengasuh anak-anak korban gempa dan tsunami di Aceh dan Nias hampir dua tahun

lalu.

Setiap pekan, para calon ibu asuh di DesaTaruna itu berpindah rumah. Mereka magang dan melakukan pekerjaan yang sama seperti ibu asuh di rumah-rumah itu. Sebagai selingan, selama tiga jam setiap hari mereka mendapat pembekalan teori mengenaipola pengasuhan anak dari pengelola desa.

***

Mari kita teropong kegiatan para ibu asuh. Teriakan seorang perempuan terdengar dari dalam rumah. “Fathur, main sepeda di luar, ya.” Seorang bocah terlihat segera menghela sepeda kecilnya ke halaman. Di sana ia berputar-putar dengan sepedanya seperti hendak pamer. Sri Andiani, perempuan yang tadi berteriak, Cuma memperhatikan sambil tersenyum.Di dalam rumah, seorang perempuan muda lain sedang

menyetrika pakaian. Dia Santi, kini sedang menuntut ilmu di Jurusan Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI, Jakarta. Tak

lama kemudian, masuk seorang anak berseragam sekolah dasar. “Assalamualaikum,” gadis kecil itu menguluk salam sambil menghampiri dan mencium tangan Sri Andiani. Dia Desy Indah Sari.

Seorang anak lain menyusul masuk. Namanya Selmi Fitriani. Dalam soal anak, perempuan berperawakan sedang dengan rambut pendek itu memang terhitung subur. Selain empat anak tadi, dia masih memiliki dua anak lain. Simak pula pengakuannya ini, “Saya telah mantu 10 kali dan memiliki 15 cucu.” Jadi, wanita 48 tahun ini punya 16 anak? Betul, tapi semuanya bukan anak kandungnya. Inilah berkah yang didapat Sri Andiani sebagai ibu asuh di perkampungan SOS Desa Taruna, Cibubur, Jakarta Timur. Jumlah anak yang ia asuh sejak menjadi “ibu” pada 1984 bahkan lebih dari angka tersebut. Mereka adalah anak-anak dari keluarga tak mampu yang menjadi asuhan Yayasan SOS Desa Taruna.

Sri berperan layaknya ibu kandung bagi anak-anak tersebut. Dia harus mendampingi saat mereka belajar. Mendengarkan berbagai keluh-kesah. Datang ke sekolah untuk mengambil rapor,

atau menyelesaikan masalah yang mereka dapat di tempat mereka belajar.

Bila anak-anak itu kekurangan uang, duit gajinya yang tak seberapa pun ia berikan. Bahkan anak-anak yang sudah tak tinggal di rumah kadang-kadang masih menadahkan tangan. Soalnya, “Hanya aku ibu yang mereka kenal,” ujarnya. Di rumah lain, ada Supriatni. Perempuan 37 tahun ini mengurus 12 anak. Ketika Tempo bertandang pekan lalu, anakanak berusia sekolah dasar mondar-mandir di ruang tamu – ruangyang hanya dipisahkan oleh lemari rendah dengan meja makan yang sekaligus menjadi meja belajar. Untuk tidur, mereka harus berbagi tilam di empat kamar.

Mengurusi anak-anak dengan latar belakang berbeda – sebagian yatim, lainnya dititipkan orang tua yang tak mampu – jelas bukan hal mudah. Sri bercerita pernah memiliki empat anak bersaudara kandung yang terlibat bermacam masalah. Anak pertama mogok sekolah dan meninggalkan rumah. Adiknya, yang sempat kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung, terlibat

pemakaian narkoba. Seorang adiknya yang lain kabur hanya sebulan sebelum mengikuti ujian sekolah menengah kejuruan. Si bungsu lari saat pendidikan di balai latihan kerja. Tentu saja Sri stres. Biasanya, ia lalu berusaha menenangkan pikiran dengan jalan-jalan sendiri keluar rumah. Setelah pikiran tenang, barulah ia kembali ke rumah.

Ada pula cerita mengesankan. Supriatni menuturkan seorang anaknya pernah mencuri uang. Uang kertas Rp 500 itu kemudian disobek menjadi tiga potongan. Begitu Supriatni pulang, si anak ingin menukar potongan uang kertas itu menjadi uang receh untuk

jajan. Saat ditanya kenapa uang kertas itu dipotong, si anak menjawab jujur, “Dari nyuri kemudian harus dibagi bertiga.” Jawaban itu mau tak mau membuat Supriatni tersenyum.

Sumber: Tempo, 8 Oktober 2006

7.1.4 Pemahaman Teks

A. Tulislah huruf S (sesuai) jika pernyataan berikut sesuai dengan isi teks, dan TS jika

senaliknya!

1. Ida Riyani mengetahui informasi tentang SOS Kinderdorf dari temannya.

2. Salah satu syarat menjadi pengasuh di SOS Kinderdorf adalah larangan menikah selama         menjadi ibu asuh.

3. Aktivitas SOS Kinderdorf mirip panti asuhan, tetapi melarang anak-anak asuhnya diadopsi.

4. SOS Desa Taruna Lembang dipimpin oleh Surtisno Setiawan.

5. Setiap pekan, para calon ibu asuh di DesaTaruna itu berpindah rumah.

6. Selain mendapatkan pembekalan teori, calon ibu asuh juga melakukan magang.

7. Sri Andiani adalah ibu asuh di SOS Desa Taruna, Cibubur, yang memiliki 16 anak asuh.

8. Tugas ibu asuh adalah memberikan nafkah buat anak-anak asuhnya.

9. Supriatni, perempuan 37 tahun, mengurus 12 anak asuh.

10. Jika mendapat masalah, Supriati menenangkan pikiran dengan jalan-jalan sendiri keluar rumah.

B. Kemukakan pokok-pokok atau isi dari teks di atas!

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karya sastra merupakan wujud dari imajinasi dan pengalaman sastrawan yang terekspresikan melalui bahasa. Bahasa dalam karya sastra bukan hanya dilihat sebagai alat, tetapi juga sebagai eksistensi karya sastra itu sendiri, yang mempunyai kedudukan potensial sama kuat dengan imaginave literature (Sukada, 1987: 12). Artinya, bahasa dalam karya sastra adalah salah satu kode dalam sebuah karya sastra yang harus dipecahkan oleh seorang kritikus atau pembaca sastra. Seperti halnya dengan kode-kode yang lain dalam sebuah karya sastra. Gaya penulisan seorang pengarang dapat dipelajari atau dikaji dalam stilistika. Secara garis besar stilistika adalah cabang linguistik yang mempelajari gaya bahasa. Menurut Lecch & Short, Stilistika adalah pengertian studi tetntang stile, kajian terhadap wujud performansi kebahasan, khususnya yang terdapat dalam karya sastra (Nurgiantoro, 202: 279). Sejalan dengan pengertian tersebut, HG Widdowson berpendapat bahwa, stilistika adalah kajian mengenai diskursus kesusastraan yang beranjak dari orientasi bahasa (1997: 4). Seorang kritikus atau pembaca karya sastra harus menitik beratkan pada kode bahasa yang digunakan oleh pengarang karya sastra tersebut. Dalam hal ini HG Widdowson juga mengatakan, bahwa perhatian seorang ahli bahasa (pembaca) tertuju terutama pada bagaimana suatu karya sastra memaparkan contoh-contoh sistem bahasa (1997:7). Perhatian tersebut ditujukan agar dalam penafsiran ide yang sampaikan oleh pengarang, pembaca atau kritikus sastra tidak bersifat subjektif atau impresionis, melainkan bersifat objektif dan ilmiah Menurut A. Teeuw (Pradopo, 2003: 106), karya sastra adalah artefak, benda mati, yang baru mempunyai makna dan menjadi obyek estetik bila diberi arti oleh manusia pembaca. Sering kali bahasa sebagai sarana penyampaian ide tersebut tidak sesuai dengan konvensi yang berlaku dalam masyarakat kebahasaan. Hal ini disebabkan, setiap pengarang memiliki gaya dalam menggambarkan. Gaya itulah yang membedakan antara pengarang yang satu dengan yang lain Objek kajian stilistika adalah style atau gaya bahasa. Gaya bahasa adalah cara menggunakan atau memanfaatkan dan mengorganisasikan potensi-potensi bahasa dalam konteks tertentu (Subroto, 1999: 1). Apa yang dimaksud dengan potensi-potensi bahasa adalah fungsi bahasa dalam karya sastra sebagai alat yang digunakan oleh pengarang untuk menggambarkan ekspresi pengarang dan efek estetik yang ditimbulkannya. Sedangkan konteks meliputi situasi dan kondisi yang melingkupi ekspresi tersebut. Penelitian ini ditujukan pada karya sastra yang berupa novel. Novel adalah Sebuah karya sastra yang berupa prosa yang di dalamnya mengandung unsur-unsur pembangun. Unsur-unsur tersebut antaralain, tema, plot, penokohan dan latar. Selain itu, novel adalah karya fiksi yang menyajikan sebuah cerita yang terperinci, detil dan melibatkan permasalahan yang kompleks. Hal terdebut sesuai dengan pendapat Nurgiantoro (2002: 15), bahwa secara stilistik, novel menekankan pentingnya detil dan bersifat mimesis. Artinya, sebuah novel adalah dunia imajinatif yang merupakan penggambaran kehidupan manusia secara detil dan kompleks dengan menggunakan gaya dan eksdpresi pengarang sebagai efek estetisnya. Bentuk ungkapan kebahasaan dalam sebuah novel merupakan suatu bentuk performansi (kinerja) kebahasaan seorang pengarang. Konsep tersebut sesuai dengan konsep style, dari Fowler (dalam Nurgiantoro, 2002: 278), bahwa dalam style kebahasaan suatu novel terdapat unsur isi dan bentuk, yang dianalogikan dengan struktur batin dan struktur lahir teori kebahasaan Chomsky. Struktur lahir adalah wujud bahasa yang konkret, yang dapat diobservasi. Struktur tersebut adalah wujud dari performansi kebahasaan seorang pengarang Sedangkan struktur batin adalah makna abstrak dari kalimat yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Dalam hal ini adalah novel. Hal tersebutlah yang menyebabkan antara pengarang yang satu dengan yang lain pasti berbeda dalam menggambarkan ekspresi dan menampakkan efek estetika dalam karyanya. Dalam penelitian ini novel yang dikaji adalah novel Nirzona karya Abidah El Khalieqy. Novel tersebut diterbitkan pada tahun 2008, melalui penerbit PT LKiS Pelangi Aksara Jogjakarta. Hampir sama dengan novel-novel Abidah El Kalieqy sebelumnya, yaitu Wanita Berkalung Sorban dan Geni Zora, juga novel terbarunya Menebus Impian, Nirzona banyak memuat konsep-konep feminisme. Namun, novel tersebut lebih subversif dengan penggambamran ekspresi lebih puitis. Hal ini menyebabkan, Nirzona menjadi novel yang mengandung efek estetika lebih banyak dibandingkan dengan novel Abidah El Khalieqy yang lain. Secara garis besar, novel ini berusaha mengkritik pihak yang selama ini menghianati negeri Insdonesia, dengan latar daerah Nangroe Aceh Darusalam dengan segala peristiwa kelam yang menimpanya. Mulai dari tragedi kemanusian, bencana tsunami, dan perjanjian Helsinki, yaitu perjanjian damai antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka. Di anatara peristiwa-peristiwa tersebut, terdapat peristiwa asmara antara dua tokoh utama, yaitu Sidan seorang pemuda Aceh yang berkuliah di Jogjakarta dengan Firdaus gadis Jawa. Jalinan asmara antara Sidan dan Firdaus terjadi sejak berkuliah di Universitas yang sama. Tetapi Mereka harus terpisah ketika terjadi bencana tsunami di Nangroe Aceh Darusalam. Sejak itu, jalinan asmara tersebut harus terjadi secara jarak jauh dengan menggunakan media telpon celluler. Setiap hari mereka saling mengirim pesan pendek (SMS). Melalui SMS tersebut, kedua tokoh saling melempar ungkapan puitis dan romantis. Novel Nirzona memiliki style atau gaya yang unik. Setiap pembaca akan akan banyak menemukan kalimat-kalimat yang berifat puitis serta romantis. Konteks-konteks perbincangan kedua tokoh baik secara langsung, maupun perbincangan melalui pesan pendek (SMS) banyak digunakan oleh pengarang untuk menunjukkan keunikan style yang menimbulkan efek puitis. Pengarang juga memanfaatkan keunikan style untuk menggambarkan latar atau setting novel. Selain itu, pembaca juga dapat menemukan percampuran kode Bahasa Indonesia dengan Jawa, Aceh dan lainnya. Salah satu contoh keunikan bahasa yang terdapat novel Nirzona adalah sebagai berikut. Malam sekarat. Redup 5 watt disayat bulan sepotong.Tersengal napas. Gigil mengawal April Mop. Tak ada hentak kecuali klakson loreng. Serupa batuk naga. Ada darah membuncah. Merah. Sidan merapat jaket suruk ke dasar sunyi. Ngeri. Satu dua langkahnya terhenti depan kedai. Ditengoknya langit sebelum duduk atas kursi. Langit jelaga. Kelam menghamburi jiwa masuk ke lapis dasarnya. (Kalieqy, 2008: 1) Pada kutipan di atas, pengarang banayak menggunakan kata-kata yang biasa digunakan untuk menggambarkan sifat benda insani pada benda noninsani. Selain itu, terdapat kalimat yang mengalami persamaan bunyi pada setiap unsur pembentuknya. Pada kalimat terakhir terdapat penyimpangan distribusi unsur kalimat, yaitu tidak digunakannya preposisi ‘di’ sebagai kata tunjuk. Bila memperhatikan konvensi kebahasaan, rangkaian kalimat di atas merupakan bentuk penyimpangan linguistik. Akan tetapi, bentuk penyimpangan tersebut menciptakan efek estetik yang berterima dalam dunia sastra, khususnya novel Nirzona. Hal inilah, yang menjadikan Nirzona dipandang pantas untuk diteliti dari segi stilistika. Pengarang novel Nirzona, Abidah El Khalieqy adalah pengarang yang dikukuhkan sebagai sastrawan angkatan 2000 dalam buku berjudul Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia yang ditulis oleh Korrie Layun Rampan (2000: 11). Abidah El Khalieqy lahir di Jombang, Jawa Timur pada 1 Maret 1965. Ia menyelesaikan S-1 Pada Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Novel-novel karangannya yang telah terbit terlebih dulu, yaitu Perempuan Berkalung Sorban dan Geni Zora banyak menyuarakan ketidak adilan jender yang menimpa kaum perempuan. Sedangkan pada novel Nirzona, Abidah El Khalieqy lebih mengeksplor kemampuan perempuan untuk mengkritisi ketidak adilan tersebut dengan jalinan kebahasaan yang puitis tapi tetap lugas dalam mengkritik. Penelitian Stilistika karya sastra belum banyak dilakukan. Hal ini sejalan dengan Sbroto (dalam Intan, 2008: 3), bahwa pengkajian terhadap Stilistika karya sastra Indonesia atau Daerah kurang memperoleh perhatian yang memadai. Adapun penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan Stilistika yaitu Kajian Stilistika dalam Novel Ayat-ayat Cinta, karya Habiburrakhman El Shirazi. Sedangkan penelitian terhadap Nirzona belum pernah dilakukan kecuali membandingkan novel tersebut dengan novel-novel Abidah El Khalieqy sebelumnya, yang berorientasi pada paham feminisme. Selain hal-hal di atas, pemilihan kajian stilistika dalam novel Nirzona karena dalam kegiatan pembelajaran bidang studi Bahasa Indonesia, baik di tingkat menegah bawah, maupun di tingkat menengah atas, diajarkan ilmu-ilmu kebahasaan (linguistik) dan apresiasi sastra. Dengan adanya kajian ini, siswa dapat membedakan pemakaian bahasa dalam ranah linguistik secara umum dan pemakaiannya dalam bidang sastra. Selain itu, pemahaman terhadap bahasa karya sastra, dalam hal ini novel, dapat mempermudah siswa dalam menganalisis novel tersebut. Mengingat bahawa stilistika merupakan ilmu interdisipliner antara linguistik dan sastra. Berdasarkan hal-hal di atas maka peneliti mengangkat judul “Kajian Stilistika dalam Novel Nirzona Karya Abidah El Khalieqy”

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. 1) Bagaimanakah gaya bahasa dalam novel Nirzona karya Abidah El Khalieqy? 2) Bagaimanakah struktur kalimat dalam novel Nirzona karya Abidah El Khalieqy? 3) Bagaimanakah leksikon asing dalam novel Nirzona karya Abidah El Khalieqy?

1.3 Tujuan penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi tentang. 1) Gaya bahasa dalam novel Nirzona karya Abidah El Khalieqy 2) Struktur kalimat dalam novel Nirzona karya Abidah El khalieqy 3) Leksikon asing dalam novel Nirzona karya Abidah El Khlieqy

1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Bagi peneliti, dengan meneliti kajian ini dapat memperdalam ilmu sastra dan linguistik. 2) Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan perbandingan untuk mengadakan penelitian yang sejenis dalam ruang lingkup yang lebih luas. 3) Bagi pengajar, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai media pembelajaran memahami dan menerapkan gaya bahasa dalam suatu kaliamat atau karya sastra. 4) Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai media belajar memahami dan menerapkan gaya bahasa dalam suatu kalimat atau karya sastra.

1.5 Definisi Operasional Definisi operasional bertujuan memberikan batasan pengertian terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian agar tidak menimbulkan anggapan lain. Istilah yang perlu didefinisikan adalah sebagai berikut. 1) Stilistika adalah ilmu yang mengkaji sastra berdasarkan bahasa yang ada di dalamnya 2) Gaya bahasa adalah suatu ciri khas kebahasaan yang dimiliki oleh seorang pengarang untuk menggambarkan ekspresi dan efek estetika. 3) struktur kalimat adalah tempat sebuah unsur kalimat yang dipentingkan dalam kaliamat tersebut. 4) Leksikon adalah perbendaharaan kata seorang pengarang untuk membangun dan menggambarkan eksdpresdinya salam karya sastra ciptaannya. 5) Novel adalah karya sastra yang terbangun atas unsur-unsur bahasa untuk menggambarkan ekspresi dan efek estetikanya. 6) Novel Nirzona adalah novel karya Abidah El Khalieqy yang mengisahkan percintaan antara tokoh Sidan dan Tokoh Firdaus secara jarak jauh karena bencana tsunami di Nangroe Aceh Darusalam dengan menggunakan gaya bahasa yang khas atau unik untuk menggambarkan ekspresi dan efek estetikanya.