Tulisan ini sebenarnya bukan pengalaman baruku. Ini kualami hampir sebulan lalu tepatnya 5 Februari 2011

Tidak bisa secara terperin kutulisdi sini. karena memang sangat sederhana peristiwa itu. Pertemuan rutin setiap awal smester dengan DPA ku, Dr. Arju Mutiah.Hanya ini yang terekam dalam otakku dan ranjut dalam untaian kata.

Terkadang suara ituterasamenusuk,mencabik bahkan meluluhlantakkansetiapsel yang membangun perasaan.Namun sejatinya suara itu adalah mutiara. Mungkin berbalut pasir atau debu tetapi terbayangkan bertapa indahnya saat pasir atau debu itu diusapdari permukaannya. Bila itu sebuah tulisan, tulisan itu ditulisdengan tinta emas. Bening berkilau. Ya,itulah mutiaranasihat yang kini berkilauan dan melekat serupa emasdalam hatiku.

Kemarin suara itu tercurah lagi dari hati seorang Ibu, seorang guru

“Kamu perlu banyak belajarmeningkatkan kecerdasan emosi dan sosialmu.Saya lihat kamu sangat jauh dengan teman-temanmu.Kamu membatasi diri sepertinya. Kamu tahu, itu tidak baik untukmu bila terus-terusan terjadi. Harus belajar berkomunikasi!. Ya, memang secara intelektual kamu tidak adamasalah tapi yakinlah, kalau kamulebih mengasa emosi dan sosialdalam dirimu, akan jauh lebih baik”

Aku hanya tersenyum tapi hatiku tercekat. Tidak ada yang bisa kuperbantahkan lagi. Terimakasi “Ibu” Arju

Kukatakan padadiriku “dan yakinlah nasihat bukan sekedar suara yang keluar dari lidah tak bertulang, melainkan batu pondasi penguat diri”