Maukah shabat semua mengetahui siapakah Abu Aiyub Al- Anshari? Mari, membaca riwayat beliau yang begitu agung dan penuh perjuangan. Tak lain semua karena kecintaan beliau terhadap Allah Subahanallahuwata’ala dan Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam.

Abu Aiyub Al-Anshari adalah salah seorang kaum anshar. Selain itu, beliau adalah salah satu dari 70 orang kaum muslimin yang mengikuti baiat Aqaba ke-2, mengulurkan tangan kanan ke tangan kanan Rasulullah dan menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela. Kali kedua pertemuan beliau dengan Rasulullah adalah ketika Rasulullah dan rombongan kaum muhajirin hijrah dari Makah ke Madinah. Pertemuan itulah, titk yang amat membahagiakan baginya dan membuat kaum anshar yang lain iri terhadapnya. Rumah beliau yang begitu sederhana dengan harta benda yang menandakan kesahajaan, menjadi tempat yang terpilih untuk menjadi tempat tinggal Rasulullah sebelum beliau mendirikan masjid sebagai pusat kegiatan kaum muslimin dan bilik sebagai tempat tinggal beliau.

Pada saat kaum Muslimin telah hijrahpun, ternyata orang-orang Quraisy tak henti-hentinya mengeluarkan siasat jahat untuk menghancurkan Islam. Mereka menghasut kabilah-kabilah serta mengerahkan tentaranya untuk memadamkan nur Ilahi. Sejak saat itulah, Abu Aiyub memfokuskan diri untuk berjihat di jalan Allah. Mulai dari perang Badar, Uhud dan Khandak, beliau iku berjuang melawan tentara Quraisy. Belaiau tak segan-segan mengorbankan jiwa, rada serta harta benda yang dimiliki demi kemenangan agama Allah. Bahkan, sampai Rasulullah wafatpun beliau tidak pernah absen mengikuti peperangan. Semua yang beliau lakukan adalah atas dasar semboyan yang mengakar kuat dalam dirinya, yaitu QS. At-Taubat:41

“Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun di waktu sempit…!”

Hanya satu kali beliau absen tidak ikut dalam barisan tentara Islam karena merasa enggan dengan panglima perang yang telah Khalifah pilih. Kemudian beliaupun menyesal atas sikap itu, dan berkata “tak jadi soal bagiku, siapa orang yang akan jadi atasanku..!” Dan sejak itu belaiu gigih mengikuti peperangan.

Ketika ikut serta dalam barisan tentara Islam di Konstantinopel, Abu Aiyub terluka parah. Sahabat, tahukah apa yang beliau ingikan di saat tekahirnya itu? Beliau meminta pada Yazit bin Mu’awiyah, komandan perangnya, agar ketika beliau meninggal, jasad beliau dibawa dengan kudanya sejauh-jauh jarak yang dapat ditempuh kea rah musu dan di sanalah jasad beliau dikebumikan. Ketika Yazid dan bala tentaranya akan berangkat menyusuri jalan tersebut, terdengarlah bunyi telapak kuda Muslimin di atas kubur beliau dan pada saat itu pula ia mengetahui bahwa tentara Islam meraih kemenangan mereka di negeri Romawi.

Itulah Sahabat, Abu Aiyub yang tidak memiliki cita-cita, kecuali cita-cita beliau yang menandakan jiwa kepahlawanan. Jiwa seorang ahli ibadah dan pejuang Islam yang yakin akan kemenangan tentara Islam. Maka beliau menjemputnya, tak perduli ia merasa lapang atau sempit. Tak perduli siapa yang menjadi pemimpinnya. Karena semua bergerak tidak lain karena kesadaran beliau untuk mendapatkan keridoan Allah semata.

Rul