BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karya sastra merupakan wujud dari imajinasi dan pengalaman sastrawan yang terekspresikan melalui bahasa. Bahasa dalam karya sastra bukan hanya dilihat sebagai alat, tetapi juga sebagai eksistensi karya sastra itu sendiri, yang mempunyai kedudukan potensial sama kuat dengan imaginave literature (Sukada, 1987: 12). Artinya, bahasa dalam karya sastra adalah salah satu kode dalam sebuah karya sastra yang harus dipecahkan oleh seorang kritikus atau pembaca sastra. Seperti halnya dengan kode-kode yang lain dalam sebuah karya sastra. Gaya penulisan seorang pengarang dapat dipelajari atau dikaji dalam stilistika. Secara garis besar stilistika adalah cabang linguistik yang mempelajari gaya bahasa. Menurut Lecch & Short, Stilistika adalah pengertian studi tetntang stile, kajian terhadap wujud performansi kebahasan, khususnya yang terdapat dalam karya sastra (Nurgiantoro, 202: 279). Sejalan dengan pengertian tersebut, HG Widdowson berpendapat bahwa, stilistika adalah kajian mengenai diskursus kesusastraan yang beranjak dari orientasi bahasa (1997: 4). Seorang kritikus atau pembaca karya sastra harus menitik beratkan pada kode bahasa yang digunakan oleh pengarang karya sastra tersebut. Dalam hal ini HG Widdowson juga mengatakan, bahwa perhatian seorang ahli bahasa (pembaca) tertuju terutama pada bagaimana suatu karya sastra memaparkan contoh-contoh sistem bahasa (1997:7). Perhatian tersebut ditujukan agar dalam penafsiran ide yang sampaikan oleh pengarang, pembaca atau kritikus sastra tidak bersifat subjektif atau impresionis, melainkan bersifat objektif dan ilmiah Menurut A. Teeuw (Pradopo, 2003: 106), karya sastra adalah artefak, benda mati, yang baru mempunyai makna dan menjadi obyek estetik bila diberi arti oleh manusia pembaca. Sering kali bahasa sebagai sarana penyampaian ide tersebut tidak sesuai dengan konvensi yang berlaku dalam masyarakat kebahasaan. Hal ini disebabkan, setiap pengarang memiliki gaya dalam menggambarkan. Gaya itulah yang membedakan antara pengarang yang satu dengan yang lain Objek kajian stilistika adalah style atau gaya bahasa. Gaya bahasa adalah cara menggunakan atau memanfaatkan dan mengorganisasikan potensi-potensi bahasa dalam konteks tertentu (Subroto, 1999: 1). Apa yang dimaksud dengan potensi-potensi bahasa adalah fungsi bahasa dalam karya sastra sebagai alat yang digunakan oleh pengarang untuk menggambarkan ekspresi pengarang dan efek estetik yang ditimbulkannya. Sedangkan konteks meliputi situasi dan kondisi yang melingkupi ekspresi tersebut. Penelitian ini ditujukan pada karya sastra yang berupa novel. Novel adalah Sebuah karya sastra yang berupa prosa yang di dalamnya mengandung unsur-unsur pembangun. Unsur-unsur tersebut antaralain, tema, plot, penokohan dan latar. Selain itu, novel adalah karya fiksi yang menyajikan sebuah cerita yang terperinci, detil dan melibatkan permasalahan yang kompleks. Hal terdebut sesuai dengan pendapat Nurgiantoro (2002: 15), bahwa secara stilistik, novel menekankan pentingnya detil dan bersifat mimesis. Artinya, sebuah novel adalah dunia imajinatif yang merupakan penggambaran kehidupan manusia secara detil dan kompleks dengan menggunakan gaya dan eksdpresi pengarang sebagai efek estetisnya. Bentuk ungkapan kebahasaan dalam sebuah novel merupakan suatu bentuk performansi (kinerja) kebahasaan seorang pengarang. Konsep tersebut sesuai dengan konsep style, dari Fowler (dalam Nurgiantoro, 2002: 278), bahwa dalam style kebahasaan suatu novel terdapat unsur isi dan bentuk, yang dianalogikan dengan struktur batin dan struktur lahir teori kebahasaan Chomsky. Struktur lahir adalah wujud bahasa yang konkret, yang dapat diobservasi. Struktur tersebut adalah wujud dari performansi kebahasaan seorang pengarang Sedangkan struktur batin adalah makna abstrak dari kalimat yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Dalam hal ini adalah novel. Hal tersebutlah yang menyebabkan antara pengarang yang satu dengan yang lain pasti berbeda dalam menggambarkan ekspresi dan menampakkan efek estetika dalam karyanya. Dalam penelitian ini novel yang dikaji adalah novel Nirzona karya Abidah El Khalieqy. Novel tersebut diterbitkan pada tahun 2008, melalui penerbit PT LKiS Pelangi Aksara Jogjakarta. Hampir sama dengan novel-novel Abidah El Kalieqy sebelumnya, yaitu Wanita Berkalung Sorban dan Geni Zora, juga novel terbarunya Menebus Impian, Nirzona banyak memuat konsep-konep feminisme. Namun, novel tersebut lebih subversif dengan penggambamran ekspresi lebih puitis. Hal ini menyebabkan, Nirzona menjadi novel yang mengandung efek estetika lebih banyak dibandingkan dengan novel Abidah El Khalieqy yang lain. Secara garis besar, novel ini berusaha mengkritik pihak yang selama ini menghianati negeri Insdonesia, dengan latar daerah Nangroe Aceh Darusalam dengan segala peristiwa kelam yang menimpanya. Mulai dari tragedi kemanusian, bencana tsunami, dan perjanjian Helsinki, yaitu perjanjian damai antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka. Di anatara peristiwa-peristiwa tersebut, terdapat peristiwa asmara antara dua tokoh utama, yaitu Sidan seorang pemuda Aceh yang berkuliah di Jogjakarta dengan Firdaus gadis Jawa. Jalinan asmara antara Sidan dan Firdaus terjadi sejak berkuliah di Universitas yang sama. Tetapi Mereka harus terpisah ketika terjadi bencana tsunami di Nangroe Aceh Darusalam. Sejak itu, jalinan asmara tersebut harus terjadi secara jarak jauh dengan menggunakan media telpon celluler. Setiap hari mereka saling mengirim pesan pendek (SMS). Melalui SMS tersebut, kedua tokoh saling melempar ungkapan puitis dan romantis. Novel Nirzona memiliki style atau gaya yang unik. Setiap pembaca akan akan banyak menemukan kalimat-kalimat yang berifat puitis serta romantis. Konteks-konteks perbincangan kedua tokoh baik secara langsung, maupun perbincangan melalui pesan pendek (SMS) banyak digunakan oleh pengarang untuk menunjukkan keunikan style yang menimbulkan efek puitis. Pengarang juga memanfaatkan keunikan style untuk menggambarkan latar atau setting novel. Selain itu, pembaca juga dapat menemukan percampuran kode Bahasa Indonesia dengan Jawa, Aceh dan lainnya. Salah satu contoh keunikan bahasa yang terdapat novel Nirzona adalah sebagai berikut. Malam sekarat. Redup 5 watt disayat bulan sepotong.Tersengal napas. Gigil mengawal April Mop. Tak ada hentak kecuali klakson loreng. Serupa batuk naga. Ada darah membuncah. Merah. Sidan merapat jaket suruk ke dasar sunyi. Ngeri. Satu dua langkahnya terhenti depan kedai. Ditengoknya langit sebelum duduk atas kursi. Langit jelaga. Kelam menghamburi jiwa masuk ke lapis dasarnya. (Kalieqy, 2008: 1) Pada kutipan di atas, pengarang banayak menggunakan kata-kata yang biasa digunakan untuk menggambarkan sifat benda insani pada benda noninsani. Selain itu, terdapat kalimat yang mengalami persamaan bunyi pada setiap unsur pembentuknya. Pada kalimat terakhir terdapat penyimpangan distribusi unsur kalimat, yaitu tidak digunakannya preposisi ‘di’ sebagai kata tunjuk. Bila memperhatikan konvensi kebahasaan, rangkaian kalimat di atas merupakan bentuk penyimpangan linguistik. Akan tetapi, bentuk penyimpangan tersebut menciptakan efek estetik yang berterima dalam dunia sastra, khususnya novel Nirzona. Hal inilah, yang menjadikan Nirzona dipandang pantas untuk diteliti dari segi stilistika. Pengarang novel Nirzona, Abidah El Khalieqy adalah pengarang yang dikukuhkan sebagai sastrawan angkatan 2000 dalam buku berjudul Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia yang ditulis oleh Korrie Layun Rampan (2000: 11). Abidah El Khalieqy lahir di Jombang, Jawa Timur pada 1 Maret 1965. Ia menyelesaikan S-1 Pada Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Novel-novel karangannya yang telah terbit terlebih dulu, yaitu Perempuan Berkalung Sorban dan Geni Zora banyak menyuarakan ketidak adilan jender yang menimpa kaum perempuan. Sedangkan pada novel Nirzona, Abidah El Khalieqy lebih mengeksplor kemampuan perempuan untuk mengkritisi ketidak adilan tersebut dengan jalinan kebahasaan yang puitis tapi tetap lugas dalam mengkritik. Penelitian Stilistika karya sastra belum banyak dilakukan. Hal ini sejalan dengan Sbroto (dalam Intan, 2008: 3), bahwa pengkajian terhadap Stilistika karya sastra Indonesia atau Daerah kurang memperoleh perhatian yang memadai. Adapun penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan Stilistika yaitu Kajian Stilistika dalam Novel Ayat-ayat Cinta, karya Habiburrakhman El Shirazi. Sedangkan penelitian terhadap Nirzona belum pernah dilakukan kecuali membandingkan novel tersebut dengan novel-novel Abidah El Khalieqy sebelumnya, yang berorientasi pada paham feminisme. Selain hal-hal di atas, pemilihan kajian stilistika dalam novel Nirzona karena dalam kegiatan pembelajaran bidang studi Bahasa Indonesia, baik di tingkat menegah bawah, maupun di tingkat menengah atas, diajarkan ilmu-ilmu kebahasaan (linguistik) dan apresiasi sastra. Dengan adanya kajian ini, siswa dapat membedakan pemakaian bahasa dalam ranah linguistik secara umum dan pemakaiannya dalam bidang sastra. Selain itu, pemahaman terhadap bahasa karya sastra, dalam hal ini novel, dapat mempermudah siswa dalam menganalisis novel tersebut. Mengingat bahawa stilistika merupakan ilmu interdisipliner antara linguistik dan sastra. Berdasarkan hal-hal di atas maka peneliti mengangkat judul “Kajian Stilistika dalam Novel Nirzona Karya Abidah El Khalieqy”

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. 1) Bagaimanakah gaya bahasa dalam novel Nirzona karya Abidah El Khalieqy? 2) Bagaimanakah struktur kalimat dalam novel Nirzona karya Abidah El Khalieqy? 3) Bagaimanakah leksikon asing dalam novel Nirzona karya Abidah El Khalieqy?

1.3 Tujuan penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi tentang. 1) Gaya bahasa dalam novel Nirzona karya Abidah El Khalieqy 2) Struktur kalimat dalam novel Nirzona karya Abidah El khalieqy 3) Leksikon asing dalam novel Nirzona karya Abidah El Khlieqy

1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Bagi peneliti, dengan meneliti kajian ini dapat memperdalam ilmu sastra dan linguistik. 2) Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan perbandingan untuk mengadakan penelitian yang sejenis dalam ruang lingkup yang lebih luas. 3) Bagi pengajar, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai media pembelajaran memahami dan menerapkan gaya bahasa dalam suatu kaliamat atau karya sastra. 4) Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai media belajar memahami dan menerapkan gaya bahasa dalam suatu kalimat atau karya sastra.

1.5 Definisi Operasional Definisi operasional bertujuan memberikan batasan pengertian terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian agar tidak menimbulkan anggapan lain. Istilah yang perlu didefinisikan adalah sebagai berikut. 1) Stilistika adalah ilmu yang mengkaji sastra berdasarkan bahasa yang ada di dalamnya 2) Gaya bahasa adalah suatu ciri khas kebahasaan yang dimiliki oleh seorang pengarang untuk menggambarkan ekspresi dan efek estetika. 3) struktur kalimat adalah tempat sebuah unsur kalimat yang dipentingkan dalam kaliamat tersebut. 4) Leksikon adalah perbendaharaan kata seorang pengarang untuk membangun dan menggambarkan eksdpresdinya salam karya sastra ciptaannya. 5) Novel adalah karya sastra yang terbangun atas unsur-unsur bahasa untuk menggambarkan ekspresi dan efek estetikanya. 6) Novel Nirzona adalah novel karya Abidah El Khalieqy yang mengisahkan percintaan antara tokoh Sidan dan Tokoh Firdaus secara jarak jauh karena bencana tsunami di Nangroe Aceh Darusalam dengan menggunakan gaya bahasa yang khas atau unik untuk menggambarkan ekspresi dan efek estetikanya.