Mengungkapakan Pokok-Pokok Bacaan Isi  teks dengan Menbaca Cepat 300 kata per menit

Membaca cepat dilakukan dengan mata langsung meluncur, menyapu halaman-halaman teks.

7.1.1 Melatih Gerak Mata

Ikutilah petunjuk berikut ini!

a. Tatap kata kunci yang terdapat di lajur kiri sekejap.

b. Gerakkan mata ke kanan dengan cepat, temukan kata kuncinya, segera coret.

c. Jika Anda telah tiba pada kata paling kanan, segera meluncur

7.1.2 Mengukur Kecepatan Membaca

Kecepatan membaca dapat diukur dengan rumus berikut ini!

Jumlah kata yang dibaca x 60

Jumlah detik untuk membaca

Kecepatan membaca

Misalnya jumlah kata yang dibaca 1.600 kata dalam waktu 3

menit 20 detik (200 detik), maka kecepatan membaca adalah:

1600

× 60 = 480 kpm (kata per menit)

200

Untuk menghitung jumlah kata dalam bacaan dapat dipergunakan

cara berikut:

1. hitunglah jumlah kata yang terdapat dalam satu garis penuh.

2. hitunglah jumlah baris pada tiap kolom/halaman yang bersangkutan.

3. hasil perkalian antara jumlah kata dan jumlah baris adalah jumlah kata yang terdapat dalam kolom atau halaman yang bersangkutan. Jika bacaan itu terdiri dari beberapa halaman, jumlah kata ialah hasil kali dari jumlah kata tiap baris, jumlah baris, dan jumlah halaman.

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kecepatan

membaca.

􀂄 Jangan mengeluarkan suara  ketika membaca!

􀂄 Jangan gerakkan bibir saat membaca!

􀂄 Jangan gerakkan kepala ke kiri  dan ke kanan saat membaca!

􀂄 Jangan menggunakan jari untuk  menunjuk teks saat membaca!

􀂄 Jangan lakukan regresi saat  membaca!

􀂄 Jangan melafalkan kata demi kata, meskipun membaca dalam     hati!

Bacalah teks  di bawah ini !

Sebuah Keluarga untuk Si Kecil

Tawa dan celoteh anak-anak terdengar dari balik dinding. Kegaduhan itu tak mengusik 15 perempuan yang sedang berdiskusi di dalam kelas. Mereka asyik bertukar pengalaman dan mengasah teori mengenai pola-pola pengasuhan anak. Dua pekan silam, 15 wanita itu datang jauh-jauh ke Lembang, Jawa Barat, meninggalkan rumahnya di Banda Aceh, Meulaboh, dan Medan. Mereka adalah calon ibu asuh yang sedang menjalani pelatihan di SOS Kinderdorf, yang lebih dikenal sebagai SOS Desa Taruna Lembang.

Motif mereka seragam. Ida Riyani, 25 tahun, perempuan asal Banda Aceh itu, bergabung dengan SOS Kinderdorf karena ingin membantu anak-anak di kotanya yang kehilangan orang tua akibat bencana tsunami. Ia tahu SOS Kinderdorf dari siaran radio. Kendati sempat kaget setelah mengetahui ada larangan menikah selama menjadi ibu asuh, Ida tetap meneruskan langkahnya. “Menikah juga ujung-ujungnya mempunyai anak. Di sini tidak perlu menikah tapi sudah punya anak. Sama saja.”

Peserta lain adalah Rosamaeda Purba, 42 tahun. Hati janda beranak dua itu terpincut SOS Kinderdorf karena lembaga yang kegiatannya sekilas mirip panti asuhan itu melarang anak-anak asuhnya diadopsi. “Saya tertarik metode mendidik anak di sini dengan pendekatan sebuah keluarga,” ujar perempuan yang tadinya berdagang baju di Medan itu.

Mereka semua akan menjalani pendidikan di Lembang selama tiga bulan. Sebuah korting besar dari masa pelatihan yang lazimnya selama dua tahun, mulai dari proses wawancara, tes, pembekalan teori, dan magang menjadi ibu asuh. “Ada pengecualian,” kata pimpinan SOS Desa Taruna Lembang, Sutrisno Setiawan.

Para peserta pelatihan itu diterima menjadi ibu asuh di perkampungan SOS Desa Taruna, yang sedang dibangun di Banda Aceh, Meulaboh, dan Medan. Mereka akan mengasuh anak-anak korban gempa dan tsunami di Aceh dan Nias hampir dua tahun

lalu.

Setiap pekan, para calon ibu asuh di DesaTaruna itu berpindah rumah. Mereka magang dan melakukan pekerjaan yang sama seperti ibu asuh di rumah-rumah itu. Sebagai selingan, selama tiga jam setiap hari mereka mendapat pembekalan teori mengenaipola pengasuhan anak dari pengelola desa.

***

Mari kita teropong kegiatan para ibu asuh. Teriakan seorang perempuan terdengar dari dalam rumah. “Fathur, main sepeda di luar, ya.” Seorang bocah terlihat segera menghela sepeda kecilnya ke halaman. Di sana ia berputar-putar dengan sepedanya seperti hendak pamer. Sri Andiani, perempuan yang tadi berteriak, Cuma memperhatikan sambil tersenyum.Di dalam rumah, seorang perempuan muda lain sedang

menyetrika pakaian. Dia Santi, kini sedang menuntut ilmu di Jurusan Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI, Jakarta. Tak

lama kemudian, masuk seorang anak berseragam sekolah dasar. “Assalamualaikum,” gadis kecil itu menguluk salam sambil menghampiri dan mencium tangan Sri Andiani. Dia Desy Indah Sari.

Seorang anak lain menyusul masuk. Namanya Selmi Fitriani. Dalam soal anak, perempuan berperawakan sedang dengan rambut pendek itu memang terhitung subur. Selain empat anak tadi, dia masih memiliki dua anak lain. Simak pula pengakuannya ini, “Saya telah mantu 10 kali dan memiliki 15 cucu.” Jadi, wanita 48 tahun ini punya 16 anak? Betul, tapi semuanya bukan anak kandungnya. Inilah berkah yang didapat Sri Andiani sebagai ibu asuh di perkampungan SOS Desa Taruna, Cibubur, Jakarta Timur. Jumlah anak yang ia asuh sejak menjadi “ibu” pada 1984 bahkan lebih dari angka tersebut. Mereka adalah anak-anak dari keluarga tak mampu yang menjadi asuhan Yayasan SOS Desa Taruna.

Sri berperan layaknya ibu kandung bagi anak-anak tersebut. Dia harus mendampingi saat mereka belajar. Mendengarkan berbagai keluh-kesah. Datang ke sekolah untuk mengambil rapor,

atau menyelesaikan masalah yang mereka dapat di tempat mereka belajar.

Bila anak-anak itu kekurangan uang, duit gajinya yang tak seberapa pun ia berikan. Bahkan anak-anak yang sudah tak tinggal di rumah kadang-kadang masih menadahkan tangan. Soalnya, “Hanya aku ibu yang mereka kenal,” ujarnya. Di rumah lain, ada Supriatni. Perempuan 37 tahun ini mengurus 12 anak. Ketika Tempo bertandang pekan lalu, anakanak berusia sekolah dasar mondar-mandir di ruang tamu – ruangyang hanya dipisahkan oleh lemari rendah dengan meja makan yang sekaligus menjadi meja belajar. Untuk tidur, mereka harus berbagi tilam di empat kamar.

Mengurusi anak-anak dengan latar belakang berbeda – sebagian yatim, lainnya dititipkan orang tua yang tak mampu – jelas bukan hal mudah. Sri bercerita pernah memiliki empat anak bersaudara kandung yang terlibat bermacam masalah. Anak pertama mogok sekolah dan meninggalkan rumah. Adiknya, yang sempat kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung, terlibat

pemakaian narkoba. Seorang adiknya yang lain kabur hanya sebulan sebelum mengikuti ujian sekolah menengah kejuruan. Si bungsu lari saat pendidikan di balai latihan kerja. Tentu saja Sri stres. Biasanya, ia lalu berusaha menenangkan pikiran dengan jalan-jalan sendiri keluar rumah. Setelah pikiran tenang, barulah ia kembali ke rumah.

Ada pula cerita mengesankan. Supriatni menuturkan seorang anaknya pernah mencuri uang. Uang kertas Rp 500 itu kemudian disobek menjadi tiga potongan. Begitu Supriatni pulang, si anak ingin menukar potongan uang kertas itu menjadi uang receh untuk

jajan. Saat ditanya kenapa uang kertas itu dipotong, si anak menjawab jujur, “Dari nyuri kemudian harus dibagi bertiga.” Jawaban itu mau tak mau membuat Supriatni tersenyum.

Sumber: Tempo, 8 Oktober 2006

7.1.4 Pemahaman Teks

A. Tulislah huruf S (sesuai) jika pernyataan berikut sesuai dengan isi teks, dan TS jika

senaliknya!

1. Ida Riyani mengetahui informasi tentang SOS Kinderdorf dari temannya.

2. Salah satu syarat menjadi pengasuh di SOS Kinderdorf adalah larangan menikah selama         menjadi ibu asuh.

3. Aktivitas SOS Kinderdorf mirip panti asuhan, tetapi melarang anak-anak asuhnya diadopsi.

4. SOS Desa Taruna Lembang dipimpin oleh Surtisno Setiawan.

5. Setiap pekan, para calon ibu asuh di DesaTaruna itu berpindah rumah.

6. Selain mendapatkan pembekalan teori, calon ibu asuh juga melakukan magang.

7. Sri Andiani adalah ibu asuh di SOS Desa Taruna, Cibubur, yang memiliki 16 anak asuh.

8. Tugas ibu asuh adalah memberikan nafkah buat anak-anak asuhnya.

9. Supriatni, perempuan 37 tahun, mengurus 12 anak asuh.

10. Jika mendapat masalah, Supriati menenangkan pikiran dengan jalan-jalan sendiri keluar rumah.

B. Kemukakan pokok-pokok atau isi dari teks di atas!