Pengertian Gaya bahasa

            Menurut Qalyubi, gaya bahasa (style) adalah cara penggunaan bahasa dari seseorang dalam konteks tertentu dan untuk tujuan tertentu (Muzakki, 2009: 9). Style diturunkan dari bahasa Latin, yaitu stilus yang berarti semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas dan tidaknya suatu tulisan pada lempengan tersebut (Keraf, 2008: 112). Abrams menyatakan bahwa gaya bahasa (style) adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan (Nurgiantoro, 2002: 276). Lecch dan Short juga berpendapat, stlyle adalah penggunaan bahasa dalam konteks tertentu, oleh pengarang terntu untuk tujuan tertentu (Nurgiantoro, 2002: 277). Menurut penjelasan Harimurti Kridalaksana (Kamus Linguistik (1982), gaya bahasa (style) mempunyai tiga pengertian, yaitu:

1.  pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis;

2.  pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu;

3.  keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra.

Maka style dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis dengan tujuan memperoleh efek tertentu.

Keraf berpendapat, gaya bahasa atau style menjadi masalah atau bagian dari diksi atau pilihan kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frasa atau klausa tertentu untuk menghadapi situasi tertentu. Oleh sebab itu, persoalan gaya bahasa meliputi semua hierarki kebahasaan, yang terdiri atas; pilihan kata secara individual, frasa, klausa, dan kalimat, bahkan mencakup pula sebuah wacana secara keseluruhan (2008: 112). Sejalan dengan pemikiran tersebut, Nurgiantoro menyatakan bahwa style ditandai oleh ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk-bentuk bahasa figuratif penggunaan kohesi dan lain-lain (2002: 276). Kedua pernyataan di atas dapat menyimpulkan bahwa style tidak hanya menekankan pada satu apek kebahasaan saja, melainkan semua kierarki kebahasaan.

 

 

Pengertian Gaya berdasarkan Aspek Kesejarahan

Pengertian style dalam aspek kesejarahan dilakukan dengan memberikan gambaran tentang style pada masa (1) sebelum Masehi, (2) abad pertengahan dan renaissance sekitar tahun 1500-1700, (3) neoklasik dan romantic sekitar tahun 1700-1798, (4) modernism yang berkembang setelah perang dunia I dan (5) postmodernisme yang berkembang setelah perang dunia II.

Pengertian Style Sebelum Masehi

Style pada masa ini ditekankan sebagai sarana retorik. Aminudin (1995: 2), menyatakan bahwa dalam studi retorik dikenal adanya tiga tahapan dalam memaparkan gagasan. Pertama, invensi, yakni tahap pelintasan gagasan dan penemuan ide. Kedua, disposisi, yakni tahap penuysunan gagasan hingga membentuk kesatuan isi tertentu sesuai dengan ide yang ingin disampaikan. Ketiga, cara (style) dalam memaparkan isi tuturan yang telah disusun melalui wahana kebahasaan. Maka, style di sini hanya dihubungkan dengan aspek kebahasaan yang lebih ditekankan pada faktor keindahan sebagai hiasan atau ornamen, disebut juga dengan bahasa klise.

Pada masa Quintilian, style dibedakan antara a high, a middle, dan low style (Aminudin, 1995: 3). Pada setiap tingkatan style tersebut, berlaku berbagai norma yang harus dipenuhi oleh penutur sesuai dengan jenis komunikasi yang akan dilakukan. Tentu, hal tersebut menimbulkan perbedaan antara penutur yang satu dengan yang lain. Pada akhirnya, ukuran sesorang dalam berbahasa dinilai berdasarkan kemampuan, keluwesan dan kefasihan dalam berbahasa sesuai dengan tingkatan gaya yang harus digunakan.

Selain hal-hal di atas pada masa sebelum masehi dikenal adanya pernyataan stilus virum arguit atau gaya mencerminkan orangnya (Aminudin, 1995: 4). Pernyataan di atas memiliki maksud bahwa setiap orang pasti memiliki gaya (style) yang berbeda satu sama lain. Dalam pemahaman style sebelum masehi, perbedaan tersebut disebabkan oleh tingkat pendidikan, kelompok sosial maupun lingkungan social budaya seseorang.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, Aminudin memberi pengertian style dalam wawasan retorika klasik, yakni pada masa sebelum masehi adalah teknik serta gaya bahasa seseorang dalam memaparkan gagasan sesuai dengan ide dan norma yang digunakan sebagai mana ciri pribadi pemakainya (1995: 4).

Pengertian Style pada Abad Pertengahan dan Masa Renaissance

Pada masa ini, style di artikan sebagai cara menyusun dan menggambarkan sesuatu secara tepat dan mendalam hingga dapat menampilkan nilai keindahan tertentu sesuai dengan impresi dan tujuan pemaparnya (Aminudin, 1995: 9). Maksud dari pernyataan tersebut adalah, bahwa style merupakan cara menyusun dan menggambarkan sesuatu secara tepat dan mendalam sesuia kesan yang ditangkap oleh indra pemaparnya dan tujuan apa yang ingin ia capai. Maka, dapat diidentifikasi, mulai ada kemajuan pemahaman terhadap style dibandingkan dengan masa sebelum masehi atau masa retorika klasik.

Bila pada masa sebelum masehi style ditekankan pada norma yang berlaku dalam masyarakat mengikat seseorang untuk menampilkan style sesuai dengan pendidikan dan lingkungan sosialnya, pada masa ini seorang pemapar dapat lebih mendalai objek yang ia lihat dan memaparkan sesuai dengan kesan yang ia tangkap dan tujuannya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Aminudin bahwa apabila pada masa sebelum masehi kajian style bersifat normatif, kajian style pada masa ini bersifat evaluatif (1995: 9). Artinya, seseorang (pemapar) bebas menyatakan penilaiannya terhadap objek kajian dengan stylenya sesuai dengan kesan yang telah ia tangkap.

Pengertian Style pada Masa Neoklasik dan Romantik

Kehidupan sastra pada masa ini ditandai dengan keinginan mempertahankan tradisi. Berbagai macam kaidah genre dimantapkan dengan gagasan bahwa, meskipun karya sastra disikapi sebagai seni , seniman itu sendiri tetap dipandang sebagai bagian dari masyarakatnya. Karya seni yang mampu menggambarkan pengalaman secara kaya, memberikan sentuhan perasaan dan kebenaran dianggap sebagai karya sastra yang bernilai luhur ( Aminudin, 1995: 12). Berdasarkan pernyataan aminudin tersebut, style seorang senimanlah yang mampu menghantarkan sebuah karya sastra menjadi seni yang pada akhirnya dapat dinilai sebagai karya yang luhur. Hal ini disebabkan, seorang seniman sebagai anggota masyarakat mampu menangkap kesan-kesan dalam kehidupan dalam bentuk pengalaman, baik yang dialaminya sendiri, maupun oleh orang lain. Hasilnya, seorang seniman mampu menghasilkan karya yang bersifat mimesis.

Selain itu, masa neoklasik juga ditandai adanya stylistc decorum yakni doktrin yang berisi antara lain penentuan batas antara puisi dengan drama, maupun pemilihan jenis puisi dengan berbagai ciri pembeda yang menandainya (Aminudin, 1995: 12-13).

Masa neoklasik lebih lanjud diikuti munculnya masa romantik yang menekankan karya sastra, yakni puisi akan dianggap baik bila bahasa yang digunakan mencerminkan spontanitas, kekuatan, kedalaman emosi serta kejernihan refleksi. Bertolak dari pernyataan tersebut, style dapat diartikan sebagai bentuk pengungkapan ekspresi kebahasaan sesuai dengan kedalaman emosi dan sesuatu yang ingin direfleksikan pengarang secara tidak langsung (Aminudin, 1995: 13).

Pengertian Style pada Masa Modernisme

Masa ini berlangsung setelah perang dunia I. Wawasan yang dominan antara lain relatifitas konsep kesatuan dan kemapanan system, konsep unity dan harmony dalam wawasan romantic mengalami pengubahan dan dislokasi sebagai pilihan pengganti prinsip koherensi (Aminudin, 1995: 17). Akibat konsep ini standar penilaian gaya mulai kehilangan arah. Gaya ditentukan sebagai bentuk ekspresi individual setiap pengarangnya.

Jenis-jenis Gaya Bahasa (Style)

Gaya bahasa dapat ditinjau dari berbagai macam sudut pandang. Keraf membagi gaya bahasa, dengan uraian sebagai berikut.

Gaya Bahasa (style) Dilihat dari Segi Nonbahasa

Dilihat dari segi nonbahasa, style terdiri atas.

  1. Berdasarkan pengarang. Gaya (style) yang disebut sesuai dengan nama pengarang dikenal berdasarkan ciri pengenal yang digunakan pengarang atau penulis dalam karangannya. Pengarang yang kuat dapat mempengaruhi orang-orang sejamannya (2008: 115). Contoh gaya bahasa ini, misalnya gaya Chairil dan gaya Sutardji dalam penggalan puisi mereka di bawah ini.

Chairil.

Penerimaan

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

Kangan tunduk! Tentang aku dengan berani

……

( Pradopo, 2003: 133-134)

Sutardji

Amuk

tubuh tak habis ditelan laut tak habis dimatahari

luka tak habis dikoyak duka tak habis digelak

langit tak habis dijejak burung tak habis di

kepak erang tak sampai sudah malam tak sampai

gapai itulah aku

(Atmazaki, 1993: 71)

Berdasarkan dua penggalan puisi penyair di atas, dapat dilihat perbedaan gaya antara keduanya.Chairil anwar melalui puisinya berjudul Penerimaan memiliki gaya romantis dengan penggunaan bahasa klise, yakni majas simile untuk mengungkapkan perasaannya terhadap ‘kau’. Lain halnya dengan Sutardji Coulsum Bakhri yang selalu menampilkan puisi-puisinya yang padat kata dan lebih menekankan pada aspek bunyi. Hal tersebut diasumsikan bahwa kata tidak sepenuhnya dapat menggambarkan perasaan.

  1. Berdasarkan krun waktu. Gaya (style) yang muncul karena ciri-ciri tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu. Misalnya, gaya lama, gaya klasik dan gaya sastra modern (2008: 116). Contoh gaya bahasa berdasarkan kurun waktu, dapat dilihat pada sastra Indonesia angkatan 20 dan sesudahnya. Periodisasi sasttra Indonesia oleh  Boejoeng Saleh pada tahun 1958 (Pradopo, 2003: 15), menyatakan bahwa periode antara tahun 20-an hingga tahun 1933 terutama mengemukakan pergulatan para sastrawan dengan roman-roman berbahasa melayu lama sebagai gayanya tetapi mengandung unsure-unsur modern di dalam isinya. Periode antara 1933 hingga 1942 dikatakan bahwa kesusastraan telah tegas merupakan kesusastraan Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa melayu (Pradopo, 2003: 16).
  2. Berdasarkan medium. Medium dalam hal ini adalah bahasa dalam arti alat komunikasi. Tiap bahasa, karena struktur dan situasi social pemakaiannya, dapat memiliki corak tersendiri. Sebuah karya yang berasal dari bahasa Jerman akan memiliki gaya yang berlainan bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Prancis atau lainnya (2008: 116).
  3. Berdasarkan Subjek. Subjek yang menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah karangan dapat mempengaruhi pula gaya bahasa sebuah karangan. Berdasarkan hal ini, dikenal gaya; filsafat, ilmiah (hokum, teknik, sastra dsb), popular, didaktik dan lain-lain (2008: 116).
  4. Berdasarkan tempat. Gaya (style) ini mendapat namanya dari lokasi geografis karena ciri-ciri kedaerahan mempengaruhi ungkapan atau eksppresi bahasanya. Misalnya; gaya Jakarta, gaya Jogjakarta dan lain-lain (2008: 116).
  5. Berdasarka hadirin. Seperti halnya dengan subjek maka hadirin atau jenis pembaca juga mempengaruhi gaya yang dipergunakan seorang pengarang. Contohnya; gaya popular yang cocok untuk rakyat banyak, gaya sopan yang cocok untuk lingkungan istana atau lingkungan yang terhormat (2008: 116).
  6. Berdasarkan tujuan. Gaya (style) berdasarkan tujuan memperoleh namanya dari maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang yang ingin mencurahkan gejolak emotifnya. Contoh gaya berdasarkan tujuannya antara lain; gaya sentimental, gaya sarkastik, gaya diplomatis gaya agung atau luhur gaya teknis atau informasional dan gaya humor.

Gaya Bahasa (Style) Dilihat dari Segi Bahasa

Dilihat dari sudut bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan, gaya bahasa (style) dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsur bahasa yang dipergunakan, antara lain.

  1. Gaya Bahasa (Style) Berdasarkan Pilihan Kata

Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa (style) mempersoalkan kata mana yang paling tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Dengan kata lain, gaya bahasa (style) ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu (2008: 117). Pernyataan tersebut, mengindikasikan bahwa gaya bahasa (style) dilihat berdasarkan pemilihan kata (diksi) dengan asumsi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai ataukah tidak. Selain itu, gaya (style) ini mempersoalkan ketepatan strutur unsur-unsur bahasa, baik kata, frasa, klausa sampai kalimatnya.

Gaya bahasa (style) berdasarkan pilihan kata dapat dilihat pada gaya bahasa resmi, gaya bahasa tak resmi dan gaya percakapan. Gaya bahasa resmi adalah gaya dalam bentuknya yang lengkap, gaya yang dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang dihapkan mempergunakannyadengan baik dan terpelihara. Gaya bahasa tak resmi dipergunakan dalam kesempatan yang tidak formal atau kurang formal. Gaya bahasa percakapan adalah gaya yang memiliki pilihan kata berupa kata-kata popular dan kata-kata percakapan (2008: 117-120).

  1. Gaya Bahasa (Style) Berdasarkan Nada

Gaya bahasa (style) berdasarkan nada didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana Sugesti tersebut akan lebih nyata bila diikuti dengan sugesti suara dari pembicara, bila yang dihadapi adalah bahasa lisan (2008: 121). Gaya bahasa berdasarkan nada tidak dijelaskan lebih lanjud karena nada seorang pengarang tidak dapat diidentifikasi melalui teks atau karyasastra.

  1. Gaya Bahasa (Style) Bardasarkan Struktur Kalimat

Berdasarkan struktur kalimatnya, gaya bahasa (style) dapat dapat dibedakan menjadi.

1)      Klimaks, merupakan gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya (2008: 124).

2)      Antiklimaks, mrupakan gaya bahasa yang gagasan-gagasannya yang diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting (2008: 125).

3)      Pararelisme, semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama (2008: 126)

4)      Antitesis, merupakan gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan (2008: 126)

5)      Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk member tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai (2008: 127). Repetisi dapat berupa kata, frasa, klausa atau kalimat. Repetisi di bagi menjasdi 3, yaitu:

(1)    epizeuksis adalah repetisi yang bersifat langsung. Kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Contoh: “Kita harus bekerja, bekerja, sekali lagi bekerja !”

(2)   Tautes adalah repetisi atas sebuah kata burulang-ulang  dalam sebuah konstruksi. Contoh: “kau diamkan aku, aku diamkan kau. Kita tak lagi salaing menyapa”

(3)   Anafora adalah repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada setiap baris atau kalimat berikutnya. Contoh: Orang yang beriman adalah orang yang membenarkan secara pasti tanpa keraguan terhadap keberadaan Allah, malaikat, kitab suci, para Rasul, hari kiamat dan qodo dan qodar. Orang yang beriman pasti akan menjalani kehidupan sesuai dengan peraturan Allah.

(4)   Epistrofa adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir baris atau kalimat beruntun. Contoh:

Api yang kau sulut, amarah kau kobar jadi lukaku

Ikatan yang kau putus, fitnah kau tebar  jadi lukaku

Kau bukan kawanku yang dulu

Kupikul semua jadi lukaku.

(5)   Simploke adalah repetisi yang awal dan akhir  beberapa baris atau kalimat berturut-turut. Contoh:

Biar kau jatuh tersungkur! Peduli setan diriku

Biar kau lemah terkapar! Peduli setan diriku

Biar kau perih merintih! Peduli setan diriku

Biar kau teriak menghujatku! Peduli setan diriku

(6)   Mesodiplosi adalah repetisi di bagian tengah kalimat tiap baris atau beberapa kalimat beruntun. Contoh:

Burung camar terbang pulang mencari sarang

Marmut-marmut tinggalkan ladang mencari kandang

Ke mana sang pencinta akan pulang?

(7)   Epanalepsis adalah repetisi yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama. Contoh:

Kupersembahkan jiwa ragaku demi tanah airku

Kujunjung tinggi namamu bumi pertiwiku

(8)   Anadiplosis adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya. Contoh

Darah membuncah pekat

Pekat jiwamu membara api

Api perjuangan atas hak

Hak mereka, tertindas yang batil

 

  1. Gaya Bahasa (Style) berdasarkan Langsung Tidaknya Makna

Gaya bahasa (style) berdasarkan makna diukur dari langsung tidaknya makna, yaitu apakah acuan yang dipakai masih mempertankan makna denotatifnya atau sudah ada penyimpangan (2008: 129). Penyimpangan tersebut dapat berupa ejaan, pembentukan kata, konstruksi kalimat, klausa dan frasa, atau aplikasi sebuah istilah. Penyimpangan-penyimpangan tersebut memiliki tujuan untuk memperoleh efek tertentu. Keraf menyebutkan efek tersebut, antara lain; kejelasan, penekanan, hiasan, humor dan lan-lain (2008: 129).

Gaya bahasa (style) berdasarkan langsung tidaknya makna, dapat dibedakan menkadi dua kelompok, dengan penjelasan di bawah ini.

1)      Gaya Bahasa Retoris adalah semata-mata merupakan penyimpangan dari konstrukasi biasa untuk mencapai efek tertentu ( Keraf, 2008: 129). Efek tersebut dapat berupa kejelasan, penekanan, hiasa, humor dan lain-lain. Maca-maeam gaya bahasa ratoris, antara lain.

(a)    Aliterasi merupakan gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama (Keras, 2008: 130). Contoh:

Tak mampu lagi teriak

Tandas terlepas oleh bisu

(b)   Asonansi merupakan gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vocal yang sama (Keraf, 2008: 130). Contoh:

Hanya raga bersuara

Jiwa telah mati tergerus hampa

Tak pelu kau

Tanya mengapa

Hanya keluh putaran waktu!

(c)    Anastrof atau Inversi adalah semacam gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat (Keraf, 2008: 130). Contoh: “acuh tak acuh dia padaku, biar! Tak sudi lagi aku padanya”

(d)   Apofasis atau Presterisio adalah sebuah gaya yang menegaskan susuatu tapi tampaknya menyangkal (Keraf, 2008: 130). Contoh: “ aku tidak ingin semua orang yang ada di sini tahu, kau telah  mengambil dana proyek ini”

(e)    Apostrof adalah gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin yang tidak hadir. Dalam pidato yang disampaikan pada suatu masa, seorang orator secara tiba-tiba mengarahkan pembicaannya langsung kepada barang atau objek khayalan atau kepada sesuatu yang abstrak sehingga tampaknya ia tidak bicara kepada hadirin (Keraf, 2008: 131). Contoh: “ Allah…ya Ghafar…, ampunilah kami yang telah ingkar terhadap sebagian ketentuanMu. Kami mohon lepaskan kami dari belenggu kefasikan ini”

(f)    Asindenton adalah gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat. Beberapa kata, frasa atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung, melainkan dengan tanda koma (Keraf, 2008: 131). Contoh: Aku memang lumat dalam putaran waktu, aku bisa memandang tiap detiknya, aku merasakan riuh riah kegembiraan, takzim rasa syukur, kecewa, sedih, lelah, diam, kosong, berpikir, melangkah, berlari, tersengal, berpeluh-peluh, putus asa, bangkit, ya begitulah aku larut.

(g)   Polisindeton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asyndeton (Keraf, 2008: 131). Berarti, kata, frasa atau klausa yang sederajat dihubungkan oleh kata sambung. Contoh: lalu kau pergi dan tak pernah kembali lagi dan aku di sini menanti dan terus menanti.

(h)    Kiasmus adalah semacam acuan gaya bahasa yang terdiri atas dua bagian, baik frasa atau klausa yang sifatnya berimbang dan dipertentangkan satu sama lain tetapi susunan frasa atau klausanya itu berbalik bila dibandingkan dengan fras atau klausa lainnya (Keraf, 2008: 132). Contoh: Kebahagiaanku hanya sekejap saja, hanya sesaat semua menguap.

(i)     Elipsis adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku (Keraf, 2008: 132). Contoh: “Hmm, sepagi ini kamu baru bangun, dasar kamu…..”

(j)     Eufemismus adalah mempergunakan kata-kata dengan arti yang baik atau dengan tujuan yang baik (keraf, 2008: 132). Contoh: “Maaf, Pak berdasarkan pantauan saya sebagai wali kelas, putra bapak tidak begitu bias mengikuti pelajaran seperti teman-temannya”

(k)   Litotes adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri (Keraf, 2008: 132). Contoh: “Maaf kami tidak bisa menjamu saudara-saudara selayaknya. Ini hanya hidangan sekedarnya saja”

(l)     Histeron Proteron adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar (Keraf, 2008: 133). Contoh: Jendela ini memberimu kamar untuk dapat berteduh dengan tenang.

(m)  Pleonasme dan Tautologi adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasa (Keraf, 2008: 133). Contoh:

  • Pleonasme: Aku melihat kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri
  • Tautologi: “Tolong ya, yang sebelah sisni maju ke depan!”

(n)   Perifrasis adalah gaya yang mirip dengan pleonasme (Keraf, 2008: 134), yaitu mempergunakan banyak kata untuk mengungkapkan satu gagasan. Contoh: Hari ini matahari bersinar dengan sangat terik (cuaca hari ini sangat panas)

(o)   Prolepsis adalah semacam gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi (Keraf, 2008: 134). Contoh: Di hari naas itu ia mengendarai mobil wanra biru

(p)   Hiperbol adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan (Keraf, 2008: 135). Contoh: “Kesabaranku sudah pada puncak ubun-ubun, jangan cari gara-gara kalau tidak mau meledak semua kemarahanku!”

2)      Gaya Bahasa Kiasan adalah gaya bahasa yang dibentuk berdasarkan perbandingan dan persamaan (Keraf, 2008: 136). Membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Gaya bahasa kiasan dapat digolongkan menjadi, sebagai berikut:

(a)    Persamaan atau Simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit (Keraf, 2008: 138). Sesuatu dibandingkan dengan ssesuatu yang lain dengan ciri adalnya kata yang menyatakan perbandingan, misalnya; seperti, bagai, bag, laksana, sebagai. Contoh: Ia cantik laksana bidadari

(b)   Metafora adalah adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat langsung (keraf, 2008: 139). Kelangsungan tersebut terlihat dengan tidak adanya kata yang menunjukkan perbandingan; seperti, bagai, bag, laksana dan lain-lain. Contoh: Jangan jadi sampah masyarakat

(c)    Alegori adalah perbandingan yang mengalami perluasan (Keraf, 2008: 140). Perluasan tersebut dapat mengisahkan manusia, hewan atau cerita lain yang mengandung kiasan. Contoh: Jangan jadi katak dalam tempurung

(d)   Personifikasi adalah gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati yang seolah-olah memiliki sifat insani. Contoh: Bulan pucat pasi, saatnya aku berangkat bekerja.

(e)    Alusi adalah gaya bahasa yang berusaha mensugestikan kesamaan antara orang, tempat atau peristiwa (Keraf, 2008: 141). Contoh: Mari berkunjung ke Paris Van Java (Bandung)

(f)    Eponim adalah suatu gaya yang menyamakan nama seorang tokoh atau orang terkenal dengan sifat benda lain. Contoh: “Kamu memang Hulk” (kuat)

(g)   Epitet adalah suatu acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau suatu hal (Keraf, 2008: 141). Acuan tersebut menggantikan seseorang atau benda. Contoh:  Simba, si raja rimba yang bijaksana

(h)   Metonimia adalah gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena mempunyai pertalian yang sangat dekat (Keraf, 2008: 142). Contoh: Laki-laki itu menyulutkan api ke ujung Djarum Coklat

(i)     Antonomasia adalah khusus dari sebuah sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri atau gelar resmi atau jabatan untuk menggantikan nama diri (Keraf, 2008: 142). Contoh: “Pak mantra, saya mohon dating ke rumag saya, Nenek sedang gawat”

(j)     Hipalase adalah gaya bahasa yang menggunakan kata tertentu untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dekenakan pada sebuah kata yang lain (Keraf, 2008: 142). Contoh: Sepagi sesiang ini mata hari tersenyum malu-malu (mendung)

(k)   Ironi adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan maknaberlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya (Keraf, 2008: 143). Contoh: “pandai betul kau, berulang-ulang mengikuti kuliah masih saja D”

(l)     Sinisme adalah memiliki sifat hamper sama dengan ironi tetapi lebih kasar. Contoh: Aku mendengar Ibu berkata pada ayah “ kau memang sorang revolusioner sejati tapi kau adalah suami yang menjijikkan”

(m)  Sarkasme adalah gaya bahasa yang lebih kasar dari ironi dan sinisme. Contoh: “Bangsat kau, anak jadah!

(n)   Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu (Keraf, 2008: 144). Gaya bahasa ini bertujuan untuk mengritik kelemahan suatu keadaan agar kelemahan tersebut segera mendapat perbaikan. Satir dapat berupa ironi atau bukan. Contoh:

Inilah negeri para bedebah

Negeri yang rakyatnya makan

Dari hasil mengais sampah

(o)   Inuendo adalah sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sederhana (Keraf, 2008: 144). Contoh: “Ah..munkin pemerintah tidak tahu, jalan utama desa yang sering mereka lewati telah rusak parah karena mereka ada dalam mobil mewah”

(p)   Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna sebaliknya (Keraf, 2008: 144). Contoh: “Wah…cantik betul dirimu dengan riasan tebal itu”

(q)   Paronomasi adalah kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi (Keraf, 2008: 145). Kemiripan tersebut membentuk parody kata. Contoh: “hai Sri…Srikaya…Sri kaya…monyet..”

Uraian gaya bahasa oleh Keraf di atas, memiliki sifat kerincian dalam pengelompokannya, yaitu berdasarkan segi nonbahasa, segi bahasa. Selain itu keraf juga membedakan antara gaya bahasa dengan majas. Uraian gaya bahasa oleh Keraf, memasukkan majas kedalam gaya bahasa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ducrot dan Todorov (zaimar), bahwa majas merupakan gaya bahasa dalam tataran semantik. Maka dapat disimpulkan bahwa pembagian jenis gaya bahasa dapat didasarkan pada semua hal yang melingkupi sebuah wacana sastra, baik dari dari segi nonbahasa, maupun dari segi bahasa.