IMAN BUKAN GENETIS

Suatu ketika seorang pemuda bernama Salman Alfarisi diutus oleh ayahnya, seorang yang beragama majusi. Dalam perjalanan, pemuda itu bertemu dengan orang-orang nasrani sedang menjalankan ibadahnya. Betapa ia kagum dengan cara orang-orang itu beribadah, sangan berbeda dengan caranya dan kaum majusi yang menyembah api. Karena kekagumannya itu, ia memutuskan untuk berpindah agama, menjadi pemeluk nasrani. Sang pemuda sangat taat terhadap ajaran agamanya, sampai ia berguru dari satu pendeta ke pendeta lainnya. Ketika pendeta yang membimbingnya menemui ajal, ia tak segan-segan menempuh perjalanan jauh untuk mencari pendeta yang telah ditunjuk oleh gurunya itu. Tak lain semua itu karena keimanan dan keqona’atannya pada Allah. Hingga suatu saat, pendeta yang membimbingnya, berkata bahwa akan ada seorang Rasul pembawa kebenaran di sebuah negeri di antara lembah yang subur. Hanya pada Rasul itulah sang pemuda akan menemukan iman yang sejati. Kesulitan demi kesulitan ia lalui demi mencari Rasulullah. Bahakan, ia rela menjadi budak keluarga yahudi. Kesulitan itupun terbayar dengan pertemuannya dengan Rasul agung, Muhammad Salallahu’alaihisallam. Itulah akhir pencariannya yang menghantarkan pada nur Islam dan syurgaNya.

Sahabat sekalian, itulah pencarian iman yang telah dilalui sahabat Rasul, Salman Alfarizi. Teladan yang nyata bagi kita semua bahwa keimanan yang melekat pada diri seorang hamba Allah bukanlah sesutau yang bersigafat genetis. Keimanan yang sempurna adalah pembenaran secara pasti akan keberadaan Allah, malai-akat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari kiamat dan qodo qodar (takdir Allah) dengan naluri dan akal kita sebagai seorang manusia serta berdasarkan dalil yang diturunkan Allah. Dengan segala yang telah Allah karuniakan pada kita itulah mestinya menjadi pondasi kita unntuk mengimani keenamnya tanpa keraguan sedikitpun. Allah berfirman dalam QS. At-Taubah: 23 “wahai orang-orang beriman ! janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pelindung, jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan pelindung, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk terjebak pada steryotif klasik yang mengatakan bahwa keimanan yang kita peroleh tidak lain adalah karena nenek moyang kita. Misalnya, “kalau bapaknya alim, anaknya pasti alim juga” atau “kalau sang ayah adalah penjudi, anaknya pasti penjudi”. Sejatinya keimanan itu berasal dari jalan yang kita titi untuk memperolehnya sehingga Allah rido memberikan hidayah dan imbasnya, amal yang terlaksana sesuai dengan keimanan yang melekat dalam diri.