Fakta
Berdasarkan cerita sorang nara sumber, sebut saja ustadz XY dalam sebuah majelis ilmu. Beliau menceritakan bawha, suatu ketika halaman rumahnya dipenuhi dengan ceceran kotoran (manusia). Malam sebelum ditemukan kotoran-kotoran tersebut, ada segerombolan orang menggedor-gedor pintu rumahnya. Setelah diusut, ternyata kotoran itu memang sengaja di cecerkan di halaman rumah beliau oleh gerombolan orang yang merasa iri dengan status beliau dan tersinggung atas nasihat kepada mereka saat berjudi di pos kamling lingkungan perumahan yang mereka tempati.
Di belahan waktu yang berbeda, sebuah kisah dari dua sahabat Rasul, Umar bin Khathab dan Abu Bakar. Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah yang sangat kaya dan memiliki kedermawanan sangat tinggi. Pada saat kaum muslimin hijrah ke Madinah, beliau mendermakan seluruh hartanya untuk kepentingan Islam. Bahkan, tidak sepeser hartapun ia tinggalakan untuk keluarganya di Makkah. Ketika Rasulullah Saw. Bertanya “Apakah yang kau tinggalkan untuk keluargamu di rumah?” dengan mantap Umar menjawab “Cukuplah Allah Swt. dan RasulNya”. Peristiwa tersebut tidak diketahui siapapun, kecuali oleh Rasulullah sendiri.
Umar bin Khathab yang sejak awal iri dengan kedermawanan Abu Bakar, berpikir bagaimana supaya ia mengalahkan sahabatnya tersebut. Umar mendermakan setengah bagian dari hartanya untuk kepentingan Islam. Dengan wajah pongah Umar menyerahkan hartanya itu pada Rasulullah, seraya bertanya “berapakah harta yang AbuBakar dermakan ya Rasulullah?” Rasulullah Saw. Menjawab “Abu Bakar mendermakan seluruh harta bendanya untuk Islam”. Mendengar jawaban Rasulullah, Umar tidak bisa berkata apa-apa. Dalam hati ia mengucap tasbih seraya menggumam “ aku selalu berada di bawah Abu Bakar dalam hal kebajikan”
Apakah titik pointnya?
Dalam kehidupan sehari-hari manusia pasti berinteraksi satu sama lain. Mereka berinteraksi dalam rangka menyelesaikan masalah, baik yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah. Hal tersebut disebabkan fitroh (potensi) yang melekat pada dirinya. Allah berfirman dalam Q.S Taha: 50 “ Tuhan kami ialah Tuhan yang telah memberikan tiap-tipa sesuatu bentuk kejadiannya, memberinya petunjuk”. Firman tersebut menjelaskan bahwasanya manusia adalah materi ciptaanNya. Kemudian Allah memberikan potensi kehidupan yang terdiri atas naluri-naluri (Baqo’, Nau’ dan tadayun), kebutuhan jasmani dan akal. Jadi kesimpulannya manusia berinteraksi dalm rangka memenuhi naluri, kebutuhan jasmaninya serta akalnya.
Sering kali dalam berinteraksi dengan sesama, timbul gejolak-gejolak atau benturan dalam hati manusia. Contoh peristiwa di atas, adalah buktinya. Ketika seseorang atau sekelompok orang yang sedang melakukan maksiyat, mendapat teguran dari orang lain, timbul gejolak dalam hatinya. Maka pilihannya adalah 2, yakni menerima nasihat itu sebagai sebuah kebenaran atau menolak secara mentah-mentah seraya melakukan tindakan-tindakan yang mereka anggap dapat melampiaskan gejolak yang mereka alami. Maka, tidak jarang pula timbul penyakit dalam hati seseorang sebagai efek interaksi tersebut.
Penyakit hati ini timbul karena seseorang hanya hidup berdasarkan nalurinya, yaitu naluri baqo’ tanpa mengimbanginya dengan proses berpikir yang benar. Orang-orang semacam ini, Allah gambarkan dalam firmanNya “Kami telah menjadikan untuk isi neraka jahanam, kebanyakan daripada menusia dan jin. Mereka mempunyai hati namun tidak digunakan untuk berpikir. Mereka mempunyai mata namun tidak digunakan untuk melihat. Mereka mempunyai telinga namun tidak digunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan bahkan lebih hina lagi” (Q.S Al-A’raf: 179). Semoga kita tidak termasuk orang semacam itu.
Pada dasarnya penyakit hati dalam diri manusia, banyak sekali macamnya. Akan tetapi di sini akan dipaparkan tiga penyakit hati yang kebanyakan menjankiti diri manusia. Tiga penyakit hati tersebut antara lain, iri, dengki dan sombong. Iri adalah keinginan untuk memperoleh kenikmatan sebagaimana yang dimiliki oleh orang lain. Dengki adalah harapan supaya kenikmatan yang diperoleh orang lain jadi hilang karena menganggap mereka kurang pantas memilikinya. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
Setiap orang sebenarnya pasti memiliki sikap iri. Hanya saja, sikap iri tersebut mengarah pada kedekatan manusia kepada Robnya atau justru sebaliknya, yakni mengarah pada hal-hal yang bersifat keduniawian belaka. Seorang yang kuat keimanannya pasti akan menyadari bahwa yang terpenting adalah kualitas, bukan kuantitas. Maka dia akan senantiasa menerima dengan ikhlas setiap pemberian Allah padanya. Akan tetapi dalam hal ibadah dan amal kebajikan, ia selalu iri kepada orang lain yang lebih. Hal tersebut telah dicontohkan dalm kisah Abu bakar dan Umar bin Khatob. Digambarkan dalam kisah tersebut, Umar selalu iri dengan Abu Bakar yang selalu unggul dalm hal peribadatan kepada Allah, termasuk dalam mendermakan hartanya di jalan Allah Swt. Rasulullah Saw.pun membenarkan sikap iri apabila mengarah pada ketaatan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori, beliau bersabda “Tidak ada iri kecuali dalam dua hal yaitu terhadap seorang laki-laki yang dikaruniai Al-Qur’an (ilmu) oleh Allah kemudian ia menunaikan isinya dan terhadap laki-laki yang dikaruniai harta oleh Allah kemudian ia membelanjakannya untuk kebenaran” . Allah Swt.pun berfirman”….Allah menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikanNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukanNya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan” Berdasarkan ayat tersebut, sangat jelas bahwa Allah memerintahkan kita untuk bersikap iri manakala melihat orang lain lebih tinggi ketaatannya pada Allah dan RasulNya. Bukan iri pada hal-hal yang bersifat keduniawian.
Dengki merupakan implementasi dari rasa iri dalam diri seseorang, khususnya iri terhadap hal yang bersifat duniawi. Maka bisa dipastikan, jika rasa iri dalam diri seseorang tertuju pada ketaatan pada Allah rasa dengki itu tidak ada karena ia akan senantiasa bahagia kalau orang-orang disekitarnya dapat menjalankan ketaatan pada Allah tanpa mengendorkan ketaatannya sendiri.
Sikap sombong, menjadikan seseorang merasa bahwa dirinya paling kuat, paling pandai, paling ditakuti. Orang semacam ini suka berbuat sewenang-wenang menurut kemauannya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain. Dia selalu merasa bahwa dirinyalah yang paling benar. Sikap seperti itu, menjadikan amal seseorang sesuai dengan dorongan atau perintah hawa nafsunya. Menurut Ibnu Ath-Tholi’ah, sebab-sebab orang terjebak dalam kesombongan yaitu karena:
a. Tidak adanya iman dalam hatinya
b. Merasa mempunyai kelebihan dibandingkan dengan orang lain dalam bernagai hal
c. Keinginan untuk dipuji, ditakuti, dihormati dan dimuliakan
Bagaimana Menangkal Penyakit Hati???
Agar kita terhindar dari bahaya penyakit hati, hal-hal yang bisa kita laukan antara lain:
a. Selalu merasa bahwa diri kita adalah hamba Allah memiliki banyak kekurangan
b. Cinta dan takut hanya kepada Allah dan Rasulullah
c. Membuka lebar hati untuk menerima ilmu dan nasihat dari orang lain
d. Ikhklas dalam beramal
e. Mempunyai harapan yang kuat hanya kepada Allah
f. Selalu meniatkan amal perbuatan hanya untuk beribadah kepadaNya
Wallahua’lam bishowwab

DAFTAR BACAAN
Abdullah, Muhammad Husain. 1996. Mafahim Islamiyah Menajamkan Pemahaman Islam. Bangil: Al-Izah
Abdurrahman, Hafidz. 1998. Islam: Polotik dan Spiritual. Singapore: Lisan Al-Haq
Atha ‘illah, Ibnu. 2005. Intisari Kitab Al Hikam. Gita Media Press
Khalid, Muh. Kholid. 1981. Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.
Terjemah Al-Qur’an