Mendengar curahan seorang kawan. Agak bingung juga menanggapinya. Salah-salah saya malah ikut nimbrung dengan rumpian-rumpiannya terhadap si objek. Siapakah objeknya? Inilah yang membuat saya berpikir, jangan-jangan sayapun sedang dilanda masalah yang sama? Karena yang jadi objek curhat  kawan saya adalah pemimimpinnya.

Tiba-tiba kawan saya bertanya “bagaimana watak Akhi fulan?” asumsinya, karena saya kenal dengan akhi Fulan. Mendengar pertanyaan itu, saya pun bingung. Saya kira semua perbincangan akan berakhir kalau saya hanya menjawab dengan senyum dan geleng kepala. Ternyata kawan saya malah menjawab pertanyaannya sendiri “kalau aku lihat ya ukhti, dia orangnya otoriter, ceplas-ceplos, sak karepe dewe” Tidak mungkin saya mengiyakan ucapannya itu, karena sama saja saya seperti meniup bara dalam sekam. Lagipula saya tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan curhat yang ujung-ujungnya malah ngrumpi. Dengan tawa renyah untuk penetral suasana saya jawab “hehe…tiap orang kan punya karakter masing-masing ukhti…santai aja…tetap semangat ya..” Saya tidak tahu apakah masalah yang ditimpanya terlalu berat atau bagaimana, kawan saya melanjudkan “Tapi ukhti kalau dia memang makhluk sosial tentune dia juga harus bisa mengerti kondisi orang lain…sikap orang boleh beda, tapi paling nggak ya ngerti sikap orang lain juga kan..?”

Mendengar ucapannya yang ini sayapun berpikir apakah saya pernah berpikir sama soal pemimpin saya? Karena bagaimanapun interaksi antara staf dengan pemimpin pasti akam menimbulkan masalah. Pasti ada ‘’benturan’’ . Bisa-bisa kekonaatan  masing-masing jadi taruhannya. Ya, kadang sayapun berpikir pemimpin saya  kurang ini, kurang itu, terlalu begini, terlalu begitu. Yang pasti, “benturan” itu ada karena saya merasa ada yang tidak sesuai. Apakah tidak sesuai dengan saya pribadi atau dengan yang lain.

Agak lama saya diam. Lalu saya berusaha agar kawan saya tidak lebih tersulut lagi. Saya katakan padanya”gak papa ukhti, yang penting tiap amanah yang kita kerjakan semua karena Allah. Dimaksimalkan samapai batas kemampuan kita. Insyaallah siapapun pemimpinnya bisa percaya dengan sendiri”. Kawan saya masih kuat dengan argumen-argumennya yang jelas memiringkan posisi sang pemimpin. Jelas saja, tiap orang pasti memiliki idealisme sendiri-sendiri soal pemimpin. Asalkan tidak sampai melanggar hukum saja.

Nasihat bagi Saya karena Saya Staf

Berakhir perbincangan kami, saya masih merenung, apakah perbincangan kami tadi ghibah? Yang jelas, kawan saya mengeluh soal pemimpin. Membahas dari keburukan yang kecil sampai yang dia anggap tidak bisa ditolerir (walaupun hanya masalah sikap), dan saya..mendengarkan ia bercerita sampai seolah objeknya ada di depan saya. Semestinya ada sebuah hikmah, setidaknya renungan bagi saya karena saya pun seorang staf di institusi tempat saya beraktivitas.

Nasihat ini datang dari salah seorang sahabat Rasulullah, Abu Aiyub Al-Anshari. Beliau adalah seorang pejuang di waktu senag ataupun susah. Saya kagum dengan semboyan beliau. “Berjuanglah kalian baik di waktu lapang, maupun di waktu sempit”.( Ada yang tahu itu potongan surat ke berapa dalam Al Qur’an?) Apapun kondisi yang menimpa, beliau selalu mengikuti peperangan untuk meraih jihad. Hanya satu kali beliau absen dalam peperangan. Suatu hari, khalifah mengangkat seorang komandan dari pemuda muslimin. Abu Aiyub tidak puas dengan kepemimpinannya. Sikapnya ini sangat membuat Abu Aiyub menyesal. Beliau berkata “Tak jadi soal lagi bagiku, siapa orang yang jadi atasanku..!”. Setelah itu Abu Aiyub tidak pernah lagi absen dalam barisan tentara muslimin.

Itulah kiranya sikap seorang pejuang sejati. Keloyalan yang ia berikan bukanlah semata-mata karena siapakah yang menjadi pemimpin, melainkan pemahamannya yang mengantar pada keimanan yang kuat.

Mungkin suatu hal yang wajar ketika saya mengeluh “kenapa amanah ini sangat berat,padahal sayapun punya urusan lain yang harus terselesaikan?”  tetapi saat saya baca sebua ayat  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (Qs. Al Anfal:27), malu sendiri rasanya. Mestinya saya menyadari bahwa amanah ini bukan dari pemimpin dari Allah. Pemimpin hanya perantara amanah itu. Yakinlah kalau saya pasti mampu melewatinya. Jangan lupa Allah pun punya kriteria soal orang yang beriman, yakni orang yang menjalankan amanahnya (QS. Al mu’minun: 8).

Menyikapi sikap pemimpin, Rasulullah bersabda “siapa saja membenci sesuatu dari amirnya, hendaklah ia tetap bersabar…” (HR. Muslim). Beliau juga bersabda “sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah mereka yang kalian cintaidan merekapun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian” ditanyakan kepada Rasulullah, “wahai Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka? Beliau menjawab “jangan, selama mereka masih menegakkan shalat (hukum Islam) di tengah-tengah kamu sekalian” (HR. Muslim dari ‘Auf bin Malik)

Dari hadits di atas, saya memahami bahwa pasti ada sosok pemimpin yang baik dan ada juga yang sebaliknya. Yang menjengkelkan, yang kurang pitar, yang kurang bijak dan mungkin menurut pandangan manusiawi kurang semuanya. Namun, ketika dia masih menjalankan hukum Islam saya, sebagai staf harus tetap menaatinya. Jadi, selagi tiap amanah yang dia berikan masih pada koridor hukum Islam, saya pun harus qona’at terhadap amanah itu.Harus selalu saya ingat, bentuk ketaatan saya pada pemimpin adalah wujud ketaatan saya pada hukum Islam.

Renungan untukku ketika Suatu Saat Aku jadi Pemimpin

Menjadi seorang pemimpin….

Hmm… bukan suatu yang mudah. Tetapi, pasti tiap manusia  mampu melewatinya. Bukankah memang tiap diri kita adalah seorang pemimpin? Minimal pemimpin bagi diri sendiri. Menjadi seorang pemimpin juga bentuk amanah dari Allah dan sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpin yang bersikap adil.

Nasihat untuk kita semua yang ada dalam sebuah kelompok

“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (QS. As Shaf: 4)

Mari pemimpin dan staf bekerja sama saling menguatkan! Apa lagi kita yang ada dalam kelompok Amar ma’ruf nahi munkar.